PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan pencapaian luar biasa dalam perkembangan pasar modal dalam negeri pada tahun 2026. Dalam kurun waktu 7,5 bulan saja pada tahun 2026, BEI mencatat penambahan sekitar 9,9 juta investor pasar modal baru. Penambahan jumlah investor sebanyak 9,9 juta ini merupakan pertumbuhan tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah panjang pasar modal Indonesia. Lonjakan yang sangat signifikan ini memperlihatkan antusiasme masyarakat yang semakin tinggi untuk berpartisipasi dalam sektor keuangan.
Dengan adanya penambahan sekitar 9,9 juta investor baru tersebut, total investor pasar modal di Indonesia kini telah menembus angka sekitar 30,2 juta. Secara lebih rinci, berdasarkan data yang dihimpun hingga tanggal 7 Agustus 2026, jumlah total investor pasar modal di tanah air telah mencapai sekitar 30,27 juta investor. Pertumbuhan ini mencerminkan akselerasi yang sangat pesat jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 yang lalu, jumlah investor pasar modal di Indonesia tercatat baru mencapai sekitar 20,34 juta investor. Kenaikan dari angka 20,34 juta di tahun 2025 menjadi sekitar 30,27 juta pada Agustus 2026 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memaparkan bahwa angka penambahan 9,9 juta investor tersebut bersifat menyeluruh. Jumlah tersebut merupakan akumulasi total investor pasar modal yang mencakup para investor di instrumen saham, obligasi, serta reksa dana.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Meskipun pertumbuhan jumlah investor ini sangat masif, terdapat karakteristik tertentu yang mendominasi profil para investor baru tersebut. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, memberikan penjelasan mengenai fenomena ini. Menurut Hasan Fawzi, mayoritas dari penambahan Single Investor Identification (SID) baru tersebut berasal dari kalangan investor baru yang didominasi oleh investor pemula yang berusia muda. Karakteristik umum dari kelompok investor berusia muda ini adalah mereka masih memiliki keterbatasan dalam hal modal awal yang digunakan untuk mulai berinvestasi di pasar modal.
Di sisi lain, lonjakan jumlah investor baru ini terjadi di tengah situasi pergerakan pasar saham domestik yang sedang mengalami dinamika dan tekanan. Berdasarkan data yang tercatat hingga tanggal 7 Agustus 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar 25,87 persen secara tahun berjalan atau year-to-date (ytd). Walaupun IHSG mengalami koreksi sebesar 25,87 persen, aktivitas transaksi di bursa tetap menunjukkan angka yang besar. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham di pasar modal Indonesia tercatat mencapai Rp 22,3 triliun.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Perkembangan pasar modal ini juga didukung oleh semakin banyaknya pilihan investasi yang tersedia bagi para investor baru maupun lama. Hingga periode 7 Agustus 2026, jumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia telah mencapai 962 perusahaan. Pertambahan jumlah perusahaan tercatat ini juga didorong oleh masuknya emiten-emiten baru melalui penawaran umum perdana saham. Tercatat, terdapat tujuh penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) baru yang telah terlaksana sepanjang tahun 2026 hingga batas waktu tanggal 7 Agustus tersebut.






