Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di lingkungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berlangsung khidmat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, hadir secara langsung bertindak sebagai inspektur upacara. Momen bersejarah ini dimanfaatkan oleh Megawati untuk menyampaikan refleksi mendalam mengenai sejarah bangsa, khususnya mengenai perjalanan hidup proklamator Indonesia, Bung Karno. Kegiatan yang berlangsung pada hari Senin, 17 Agustus 2026 tersebut bertempat di Sekolah Partai PDIP dan dihadiri oleh jajaran pengurus serta kader partai.
Dalam pidatonya, Megawati menguraikan rincian pengorbanan Bung Karno yang menghabiskan total 18 tahun hidupnya dalam penahanan dan pengasingan. Perjalanan panjang tersebut terbagi dalam beberapa fase sejarah krusial Indonesia. Pada masa kolonialisme Belanda, Bung Karno harus mendekam di penjara dan diasingkan selama 12 tahun. Perjuangan berlanjut pada masa revolusi fisik, di mana beliau kembali diasingkan selama 2 tahun. Pengasingan ini tidak berhenti setelah kemerdekaan diraih, sebab pada masa Orde Baru, Bung Karno kembali dikenakan status tahanan rumah selama 4 tahun tanpa melalui proses pengadilan yang sah.
Megawati secara terbuka menyoroti latar belakang penahanan Bung Karno pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Menurut Megawati, penahanan tersebut dilakukan karena Soeharto ingin menduduki kursi kepresidenan. Selama masa penahanan tersebut, Bung Karno dipindahkan ke beberapa lokasi, mulai dari Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke Batu Tulis, hingga akhirnya ditempatkan di Wisma Yaso. Penahanan tanpa pengadilan ini menjadi catatan kelam yang disoroti Megawati sebagai bagian dari upaya sistematis untuk membatasi ruang gerak sang proklamator.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Di sisi lain, Megawati juga menyinggung aspek hukum tata negara terkait status Bung Karno. Ia mengingatkan kembali bahwa Ketetapan MPRS Nomor 33 MPRS Tahun 1967 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno kini telah dicabut. Kendati demikian, Megawati menilai masih ada upaya yang dilakukan secara berulang-ulang untuk menghapuskan peran sejarah Bung Karno dalam ingatan kolektif bangsa. Hal inilah yang memicu sikap tegas dari putri proklamator tersebut dalam menjaga warisan sejarah sang ayah.
Ketegasan Megawati tidak hanya ditujukan kepada pihak luar, melainkan juga kepada internal partai yang dipimpinnya. Ia memberikan peringatan keras kepada seluruh kader PDIP agar senantiasa patuh pada arahan partai. Megawati bahkan mengancam akan memecat kader yang merasa takut untuk menyebut nama Bung Karno, serta mempersilakan mereka yang tidak mau mengikuti instruksi partai untuk keluar dari PDIP. Bagi Megawati, loyalitas terhadap ideologi dan sejarah perjuangan partai merupakan hal mutlak yang tidak dapat ditawar oleh setiap anggota.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sebagai penutup, Megawati menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia agar memiliki keteguhan pikiran dan keyakinan yang sama kuatnya dengan Bung Karno. Di tengah perkembangan zaman dan tantangan ekonomi modern, pesan ini relevan bagi para pelaku industri kreatif dan kreator digital yang membutuhkan daya juang tinggi untuk mandiri. Pemahaman sejarah yang kuat diharapkan mampu menjadi fondasi mental bagi pemuda dalam menghadapi persaingan global yang dinamis.






