Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi kepemilikan emas yang sangat besar di luar sistem keuangan resmi. Berdasarkan penjelasannya, terdapat sekitar 1.800 ton emas masyarakat yang hingga saat ini belum masuk ke dalam sistem keuangan formal. Keberadaan simpanan emas fisik yang masih banyak disimpan secara mandiri oleh masyarakat atau kerap diistilahkan sebagai simpanan di bawah bantal tersebut menjadi salah satu potensi ekonomi yang belum tergarap maksimal.
Jumlah emas masyarakat sebesar 1.800 ton tersebut memiliki nilai ekonomi yang sangat fantastis. Airlangga menyebutkan bahwa total valuasi dari ribuan ton emas tersebut mencapai US$ 252 miliar. Apabila dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan acuan kurs sebesar Rp 17.790 per dolar Amerika Serikat, nilai simpanan emas tersebut setara dengan Rp 4.483,02 triliun. Jumlah nilai yang menembus ribuan triliun rupiah ini menunjukkan betapa masifnya peredaran aset emas fisik yang masih belum terintegrasi ke dalam ekosistem jasa keuangan terstruktur.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Untuk memberikan gambaran mengenai besarnya skala volume tersebut, Airlangga turut membandingkannya dengan cadangan emas milik beberapa negara besar di dunia. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sebesar 8.133 ton, sedangkan China memiliki stok emas sebanyak 2.331 ton. Dengan volume emas masyarakat Indonesia yang belum masuk sistem keuangan mencapai 1.800 ton, potensi kepemilikan emas di dalam negeri pada dasarnya memiliki volume yang sangat besar jika disandingkan dengan stok kepemilikan emas yang dimiliki oleh negara-negara seperti China dan Amerika Serikat.
Di dalam sistem keuangan nasional sendiri, sudah terdapat lembaga yang memiliki kapabilitas untuk mengelola emas secara resmi melalui layanan bullion. Dua lembaga jasa keuangan yang telah menghadirkan layanan bullion tersebut adalah PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia atau BSI. Dalam pengelolaannya saat ini, PT Pegadaian tercatat telah mengelola stok emas masyarakat sebesar 153 ton, sedangkan BSI telah mengelola simpanan emas sekitar 20 ton.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Terkait besarnya potensi emas yang belum terkelola secara formal, Airlangga meminta PT Pegadaian dan BSI untuk mencari formulasi dan strategi yang tepat agar masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi untuk menitipkan aset emas mereka. Kedua lembaga tersebut didorong agar dapat mengupayakan peralihan setidaknya 20 persen dari total nilai simpanan emas mandiri sebesar US$ 252 miliar tersebut. Melalui langkah peralihan dari simpanan di bawah bantal menuju instrumen keuangan, instrumen perbankan syariah, maupun produk Pegadaian, aset emas masyarakat diharapkan dapat terintegrasi secara produktif ke dalam sistem keuangan.






