Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah besar dalam mereformasi sistem pembagian bantuan sosial dengan menerapkan perlindungan sosial (perlinsos) berbasis digital. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap bantuan yang mengalir dari kas negara benar-benar sampai ke tangan yang berhak. Anggaran perlinsos saat ini terbilang sangat besar, yakni mencapai sekitar Rp1.300 triliun atau hampir 30 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan alokasi yang begitu besar, optimalisasi sistem menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan demi menghindari pemborosan anggaran.
Mengapa pemerintah menerapkan sistem Perlinsos Digital?
Langkah digitalisasi ini dijalankan untuk menyelaraskan program kerja pemerintah dengan visi dan misi kepemimpinan Presiden Prabowo. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa pembenahan ini diperlukan karena sistem penyaluran konvensional masih menghadapi kendala akurasi data. Melalui integrasi teknologi, pemerintah berupaya meminimalkan kesalahan distribusi agar bantuan sosial menjadi tepat sasaran.
Apa masalah utama dalam penyaluran bansos yang ingin diatasi?
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Sistem digital ini dirancang khusus untuk mengeliminasi dua masalah kronis dalam distribusi bantuan, yaitu inclusion error dan exclusion error. Masalah inclusion error merujuk pada situasi di mana kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak layak atau tidak memenuhi syarat justru menerima bantuan sosial. Sebaliknya, exclusion error adalah kondisi di mana warga yang berhak dan sangat membutuhkan bantuan justru terlewatkan dan tidak menerima hak mereka. Menurut catatan Kementerian Sosial, tingkat inclusion error saat ini masih sangat tinggi, di mana sekitar 45 persen bantuan sosial terindikasi mengalami salah sasaran tersebut.
Berapa besar potensi penghematan anggaran yang bisa dicapai?
Upaya pembenahan ini diperkirakan dapat menekan kebocoran anggaran negara dalam jumlah yang signifikan. Berdasarkan estimasi dari Dewan Ekonomi Nasional pada tahun 2024, digitalisasi berbagai program perlindungan sosial berpotensi menciptakan efisiensi anggaran antara Rp127 triliun hingga Rp200 triliun. Angka penghematan yang besar ini diharapkan dapat dialokasikan kembali untuk program pembangunan nasional lainnya yang produktif, sekaligus membuktikan bahwa digitalisasi sistem birokrasi dapat langsung berdampak pada kesehatan fiskal negara.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Di mana uji coba sistem Perlinsos Digital ini telah dilakukan?
Sebagai langkah awal untuk menguji keandalan sistem baru ini, pemerintah telah melaksanakan uji coba Perlinsos Digital di Kota Surabaya. Menurut informasi dari Muhammad Qodari, uji coba di lapangan tersebut menunjukkan hasil yang positif. Penerapan sistem digital di Kota Surabaya terbukti mampu membersihkan data penerima bantuan sosial secara signifikan, menyaring nama-nama yang tidak berhak, dan memperbarui basis data warga miskin secara lebih akurat. Kendati demikian, efektivitas menyeluruh dari sistem ini secara nasional masih memerlukan waktu pengawasan dan implementasi yang lebih luas untuk melihat konsistensi hasilnya di berbagai wilayah lain di Indonesia.






