Wilayah Priangan Tasikmalaya di Jawa Barat kini tengah didorong untuk naik kelas menjadi pusat industri mebel dan kerajinan yang berorientasi ekspor. Langkah ini menjadi momentum penting bagi para pelaku usaha lokal agar dapat bersaing di kancah internasional. Dengan potensi besar yang dimiliki oleh wilayah ini, transformasi sektor industri mebel dan kerajinan diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
Tasikmalaya sendiri sudah lama dikenal dengan kemampuan luar biasa para pengrajinnya dalam mengolah berbagai bahan baku alami. Para pengrajin lokal sangat terampil dalam memproses bambu, mendong, kayu, serat alam, dan berbagai produk buatan tangan (handmade). Selain material tradisional tersebut, terdapat pula ruang pengembangan untuk bahan-bahan lain seperti kayu, kombinasi kayu dengan anyaman, metal, serta tekstil. Keberagaman bahan ini memungkinkan terciptanya berbagai macam produk, mulai dari dekorasi, suvenir, hingga produk gaya hidup premium.
Meskipun memiliki potensi talenta yang melimpah, industri di kawasan ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyatakan bahwa masalah utama di Priangan bukanlah kekurangan talenta. Menurutnya, aspek-aspek yang perlu dibenahi secara mendasar adalah pola pikir (mindset), penempatan posisi (positioning), sistem, serta akses terhadap pasar. Tanpa adanya pembenahan pada hal-hal tersebut, potensi besar para pengrajin akan sulit tersalurkan secara maksimal ke pasar internasional.
Laba Usaha InJourney Naik 10%, Ini Pesan BP BUMN

Untuk dapat menembus pasar global, para pelaku usaha harus memahami kriteria evaluasi yang diterapkan oleh para pembeli internasional (global buyers). Para pembeli global ini sangat memperhatikan konsistensi kualitas dari produk yang dihasilkan. Selain itu, kemampuan memenuhi pesanan, kapasitas produksi, ketepatan pengiriman, profesionalisme, serta aspek keberlanjutan (sustainability) juga menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam menjaga hubungan bisnis jangka panjang.
Salah satu strategi utama dalam program ini adalah mendorong transformasi model bisnis pelaku usaha. Perusahaan-perusahaan yang selama ini berperan sebagai subkontraktor didorong untuk naik kelas menjadi Original Equipment Manufacturer (OEM) dan kemudian menjadi Original Design Manufacturer (ODM). Melalui transisi ini, mereka diharapkan mampu membangun merek sendiri hingga akhirnya memiliki akses langsung kepada pembeli (buyer) tanpa harus bergantung pada pihak ketiga.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Sebagai langkah nyata, HIMKI tengah mendorong pemetaan terhadap sekitar 30 hingga 50 perusahaan potensial di wilayah Priangan. Dari hasil pemetaan tersebut, sekitar 20 perusahaan akan dikurasi untuk menjadi calon eksportir yang siap memasuki pasar internasional. Program kurasi ini memiliki target waktu yang terstruktur. Dalam jangka waktu 6 hingga 12 bulan, ditargetkan pesanan ekspor pertama atau ekspor yang kembali aktif dapat mulai muncul. Selanjutnya, dalam kurun waktu 12 hingga 36 bulan, perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pesanan berulang (repeat orders) sekaligus memperluas negara tujuan ekspor mereka.
Upaya pengembangan wilayah industri berorientasi ekspor ini tidak hanya terjadi di Jawa Barat. Di wilayah lain, seperti Madura, Jawa Timur, pemerintah juga tengah menyiapkan kawasan tersebut menjadi salah satu kawasan industri baru. Persiapan ini didukung dengan masuknya para investor asing dari berbagai negara yang siap menanamkan modalnya di Madura. Dengan demikian, pembangunan industri di Priangan Tasikmalaya dan Madura diharapkan dapat saling memperkuat struktur perekonomian nasional.






