Sebuah rekaman video yang memperlihatkan deretan siswa sekolah bergelantungan pada kabel sling saat menyeberangi Sungai Tripe di Desa Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, menjadi perhatian publik dan viral di media sosial sejak Kamis, 23 Juli 2026. Peristiwa tersebut memicu sorotan masyarakat luas terkait ketersediaan jalur transportasi lokal yang aman bagi kegiatan sehari-hari warga. Menanggapi situasi yang beredar di ranah digital tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa langkah penanganan infrastruktur di kawasan ini sejatinya telah berjalan secara aktif. Pihak TNI bersama warga setempat bahu-membahu membangun jembatan untuk memulihkan konektivitas, dengan proses pengerjaan konstruksi yang sudah dimulai sejak sebulan sebelumnya secara bergotong royong.
Sebagai langkah tanggap darurat, warga bersama prajurit TNI memanfaatkan jalur sementara berupa dua bentangan kabel sling yang hingga saat ini masih digunakan oleh masyarakat umum, termasuk para pelajar yang hendak berangkat ke sekolah. Jembatan gantung yang kemudian diberi nama Jembatan Gantung Garuda ini difungsikan murni sebagai sarana pemulihan akses masyarakat dalam jangka pendek. Kehadiran jembatan darurat ini diharapkan mampu menopang mobilitas warga sebelum proyek jembatan permanen direalisasikan sepenuhnya oleh pemerintah daerah maupun pusat. Untuk mengantisipasi risiko keselamatan sewaktu-waktu akibat kondisi arus sungai yang tidak memungkinkan untuk dilintasi, personel Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 885/Raksaka Dharma juga turut menyiagakan satu unit perahu karet di lokasi perlintasan Sungai Tripe tersebut.
Serda Ahmad Tewas Dianiaya, Anggota DPR, Kekerasan di TNI Harus Dihilangkan

Perkembangan pengerjaan fisik infrastruktur jembatan ini terus bergerak maju meski dihadapkan pada berbagai kendala operasional. Pada Kamis, 30 Juli 2026, Peltu Nurdin secara resmi mengonfirmasi bahwa progres pembuatan Jembatan Gantung Garuda telah menyentuh angka 50 persen. Sejalan dengan pencapaian tersebut, Dandim 0113/Gayo Lues Letkol Arm. Fran Desiafan Eka Saputra menyatakan optimismenya bahwa jembatan darurat tersebut dapat diselesaikan sebelum perayaan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Dalam proses pelaksanaannya, pengerjaan proyek ini menghadapi beberapa tantangan logistik yang cukup signifikan. Sebagian besar material bangunan harus didatangkan langsung dari Medan, yang berarti membutuhkan jarak distribusi yang sangat panjang. Selain itu, faktor cuaca yang tidak menentu serta sempat terjadinya kelangkaan bahan bakar solar di beberapa wilayah Sumatra turut menyebabkan pengiriman material mengalami keterlambatan beberapa kali.
Kebutuhan mendesak akan akses darurat di Desa Kendawi ini bermula dari dampak destruktif bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Gayo Lues pada akhir November tahun lalu. Musibah alam tersebut tidak hanya memutus jalur transportasi, tetapi juga mengakibatkan kerusakan yang cukup parah pada fasilitas pendidikan setempat, yaitu bangunan SD Negeri 5 Dabun Gelang dan SMP Satu Atap Kendawi. Guna memastikan kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung tanpa membahayakan keselamatan siswa, pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues mengambil langkah cepat. Mereka memutuskan untuk memindahkan sementara seluruh aktivitas pembelajaran ke bangunan meunasah desa setempat, sembari menunggu proses rehabilitasi fasilitas pendidikan dan infrastruktur penghubung selesai dikerjakan.
Sopir Travel Ditembak Mati KKB di Wamena, Pelaku Diburu

Penanganan infrastruktur jembatan di Kabupaten Gayo Lues ini pada dasarnya merupakan bagian dari program pemulihan pascabencana berskala besar yang mencakup tiga wilayah utama, yakni Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Secara keseluruhan, target penanganan infrastruktur di ketiga provinsi tersebut mencapai total 1.227 unit jembatan. Berdasarkan data hingga akhir Juli 2026, sebanyak 574 jembatan atau sekitar 46,8 persen dari total target telah selesai ditangani dengan baik, sementara 653 jembatan lainnya masih dalam tahap pengerjaan intensif. Dari total kebutuhan pemulihan di tiga provinsi tersebut, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan sasaran penanganan infrastruktur terbesar, yakni mencapai 676 unit jembatan. Dari jumlah alokasi di Aceh tersebut, sebanyak 188 jembatan telah rampung dikerjakan, sedangkan 490 jembatan sisanya masih dalam proses penyelesaian untuk segera memulihkan roda perekonomian dan konektivitas masyarakat.






