PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal sebagai Telkom, kini tengah menjalankan langkah strategis yang signifikan dalam struktur bisnisnya. Perusahaan telekomunikasi milik negara ini sedang melakukan proses restrukturisasi pada segmen Telkom Enterprise. Penataan ulang segmen ini dilakukan secara terarah dan selaras dengan program transformasi menyeluruh yang sedang berjalan di internal perusahaan. Langkah penataan bisnis ini secara khusus dijalankan di bawah payung strategi besar yang disebut sebagai strategi TLKM 30.
Langkah restrukturisasi pada unit Telkom Enterprise ini menjadi sangat relevan mengingat perkembangan kebutuhan teknologi di tanah air. Saat ini, Indonesia sangat membutuhkan kapabilitas digital nasional yang kuat dan tangguh. Kapabilitas digital yang mumpuni ini diperlukan untuk menjawab berbagai macam tantangan teknologi modern yang sedang berkembang pesat. Beberapa tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini meliputi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), isu keamanan siber yang kian kompleks, kebutuhan akan kedaulatan data (data sovereignty), hingga kedaulatan kecerdasan buatan (AI sovereignty).
Dari sisi kinerja keuangan, segmen bisnis enterprise memiliki peran yang cukup penting bagi pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Saat ini, kontribusi dari bisnis enterprise terhadap total pendapatan yang diraih oleh Telkom tercatat mencapai sekitar 11 persen. Angka kontribusi ini setara dengan nilai nominal sebesar Rp19 triliun. Meskipun kontribusi saat ini sudah cukup besar, peluang untuk meningkatkan porsi pendapatan dari sektor ini masih terbuka sangat lebar jika melihat tren yang ada di industri telekomunikasi dunia.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sebagai perbandingan dengan industri global, potensi pertumbuhan lini bisnis enterprise ini dinilai masih sangat besar. Di beberapa perusahaan telekomunikasi berskala global, lini bisnis enterprise mampu memberikan kontribusi yang jauh lebih signifikan terhadap pendapatan total perusahaan. Kontribusi bisnis enterprise di tingkat global tersebut tercatat dapat menyumbang sekitar 20 persen hingga 30 persen, atau bahkan bisa lebih dari total pendapatan yang diperoleh perusahaan telekomunikasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa segmen enterprise di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas untuk dioptimalkan.
Untuk memaksimalkan potensi pasar dan mempercepat pengembangan bisnis ini, sinergi dengan berbagai pihak menjadi hal yang sangat krusial. Dalam hal ini, prospek pasar dari segmen enterprise milik Telkom diharapkan dapat terus meningkat melalui kolaborasi yang terjalin bersama Badan Pengelola Investasi Danantara atau Danantara. Sinergi strategis antara Telkom dan Danantara ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan infrastruktur digital dan layanan korporasi di Indonesia.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Keberhasilan dari jalannya restrukturisasi dan kolaborasi ini didukung penuh oleh jajaran kepemimpinan yang berpengalaman di kedua belah pihak. Di dalam struktur internal Telkom, pengelolaan dan arah strategis untuk segmen enterprise berada di bawah kepemimpinan Veranita Yosephine, yang menjabat sebagai Direktur Enterprise & Business Service Telkom. Veranita memegang peranan penting dalam memastikan proses restrukturisasi segmen enterprise ini berjalan sesuai dengan target transformasi perusahaan.
Sementara itu, dari pihak Danantara, terdapat keterlibatan aktif dari para petinggi lembaga investasi tersebut. Proses kolaborasi ini dikawal langsung oleh Dony Oskaria yang menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara sekaligus bertindak sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara. Selain itu, Setyanto Hantoro juga turut memperkuat tim kepemimpinan ini dengan kapasitasnya sebagai Managing Director Business-2 Danantara. Sinergi kepemimpinan dari para tokoh ini diharapkan mampu menyukseskan implementasi strategi TLKM 30 demi memperkuat kapabilitas digital nasional.






