Kawasan Dukuh Atas di Jakarta akan segera dilengkapi dengan infrastruktur baru, seiring dengan langkah PT MRT Jakarta yang telah memulai proses pembangunan pedestrian deck. Infrastruktur ini merupakan sebuah jembatan penghubung yang dirancang secara khusus dengan bentuk lingkaran. Proyek pembangunan jembatan penghubung ini menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan tata ruang kota Jakarta saat ini. Berdasarkan perkembangan terbaru, proyek pedestrian deck tersebut kini telah memasuki tahap tender. PT MRT Jakarta menetapkan target yang jelas, yaitu kontraktor yang terpilih diharapkan sudah mulai bekerja di lapangan pada bulan November 2026.
Sebelum secara resmi memasuki tahap tender, PT MRT Jakarta telah melakukan berbagai persiapan matang, salah satunya adalah dengan melaksanakan kegiatan market sounding. Kegiatan penjajakan pasar ini melibatkan sejumlah perusahaan konstruksi baja serta berbagai kontraktor sipil. Dari hasil diskusi dan peninjauan dalam kegiatan tersebut, para pelaku industri konstruksi menilai bahwa proyek pedestrian deck ini sangat layak untuk dikerjakan. Penilaian positif dari pelaku industri ini didasarkan pada ketersediaan teknologi pembangunan; mereka memastikan bahwa teknologi konstruksi yang dibutuhkan sudah tersedia saat ini.
Meskipun teknologi yang dibutuhkan sudah memadai, pelaksanaan proyek infrastruktur ini tetap memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang harus diantisipasi. Agus Trihan, yang menjabat sebagai Advisor Program Management Office Division di MRT Jakarta, menjelaskan secara rinci mengenai kendala teknis yang akan dihadapi di lapangan. Salah satu tantangan utama untuk proyek ini adalah proses pembangunan struktur baja yang harus dilakukan tepat di atas kawasan yang tetap beroperasi secara aktif. Pengerjaan konstruksi ini dituntut untuk berjalan dengan metode khusus tanpa mengganggu aktivitas lalu lintas maupun operasional transportasi publik di kawasan tersebut.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Pemilihan bentuk lingkaran untuk pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas ini bukan sekadar pertimbangan estetika semata. Desain melingkar tersebut secara khusus dipilih untuk menjaga kesinambungan konsep tata kota Jakarta yang telah dirancang sejak era Presiden Soekarno. Konsep tata kota bersejarah ini dapat terlihat pada sumbu utama Jakarta yang menghubungkan berbagai titik penting, mulai dari Patung Pemuda Senayan, Simpang Semanggi, Bundaran HI, hingga Patung Kuda. Titik-titik lokasi tersebut juga mengusung elemen desain yang serupa, yang difungsikan sebagai pusat orientasi wilayah perkotaan di ibu kota.
Desain akhir yang mengusung bentuk lingkaran ini juga telah mendapat persetujuan resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari konsep akhir proyek. Proses perencanaan infrastruktur ini dikerjakan secara komprehensif dan melibatkan banyak pihak internal, termasuk Sagita Devi yang bertugas sebagai TOD Planning Department Head di MRT Jakarta. Dalam proses perencanaannya, konsep jembatan penghubung ini telah melewati serangkaian studi. Proyek ini bahkan sempat memiliki rancangan bentuk yang sangat berbeda dari desain lingkaran yang pada akhirnya disetujui oleh pemerintah daerah.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Pada tahap awal perencanaannya, proyek pedestrian deck Dukuh Atas tersebut sempat dirancang untuk memiliki dua lantai yang turut dilengkapi dengan area rooftop. Namun, rancangan awal berupa struktur dua lantai dengan area rooftop tersebut pada akhirnya diubah. Keputusan untuk mengubah desain awal ini diambil setelah pihak MRT Jakarta melakukan evaluasi mendalam dengan mempertimbangkan kondisi lapangan yang sebenarnya. Selain itu, faktor kepemilikan aset di sekitar area pembangunan, hingga kelancaran proses perizinan juga menjadi pertimbangan utama agar proyek tetap dapat memenuhi target awal konstruksi pada bulan November 2026.






