Penutupan delapan bandara dan penundaan 1.558 penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum mendorong pemerintah mengeluarkan paket stimulus fiskal baru. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah belum perlu merancang insentif ekonomi khusus untuk merespons dampak erupsi tersebut.
Erupsi yang terjadi sejak 5 September 2026 dinilai belum memberikan guncangan ekonomi sebesar bencana-bencana sebelumnya, seperti banjir lumpur di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ataupun bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Untuk langkah tanggap darurat, pemerintah mengandalkan alokasi anggaran penanggulangan bencana yang berada di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Purbaya menegaskan pemerintah siap menambah pagu anggaran BNPB jika kebutuhan penanganan di lapangan meningkat dan disertai pertanggungjawaban yang jelas.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Proyeksi Dampak Makroekonomi Kuartal III-2026
Penilaian pemerintah sejalan dengan kalkulasi ekonom. Kepala Pusat Riset Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, memproyeksikan dampak erupsi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 tergolong minim berdasarkan simulasi model Computable General Equilibrium (CGE).
Menurut Rizal, gangguan pada sektor transportasi udara tidak otomatis mematikan transaksi ekonomi. Tiket dan agenda perjalanan yang tertunda umumnya dijadwalkan ulang atau dialihkan sebelum penutupan kuartal pada akhir September, sehingga perputaran dana tetap tercatat dalam periode berjalan.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Berdasarkan pemodelan CGE, apabila gangguan berlangsung selama sepekan dan separuh aktivitas yang terhambat berhasil pulih sebelum akhir September, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hanya sekitar 0,003 poin persentase. Simulasi tersebut memperlihatkan proyeksi pertumbuhan normal sebesar 5% hanya akan bergeser tipis menjadi sekitar 4,997%.
Risiko tekanan dapat membesar jika masa gangguan berlangsung lebih lama. Apabila disrupsi penerbangan berlanjut hingga tiga pekan dengan tingkat pemulihan aktivitas hanya 20%, koreksi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 diperkirakan mencapai kisaran 0,015 poin persentase.






