Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Puspomau) mengungkap kronologi penganiayaan yang menewaskan prajurit Serda Ahmad Muzammil Farisa. Korban dilaporkan meninggal dunia setelah menerima tiga kali pukulan dengan tangan kosong di bagian dada oleh seniornya.
Komandan Puspomau Marsekal Muda Daan Sulfi menyampaikan keterangan resmi tersebut dalam konferensi pers di Kantor Puspom TNI AU, Jakarta Timur, Rabu (16/9/2026). Dari hasil penyelidikan, Puspomau telah menetapkan empat orang tersangka, yakni Serda MTS, Serda MAD, Serda JM, dan Serda AH. Selain Serda Ahmad, terdapat dua korban lain yang turut dirundung dan dianiaya, yaitu Serda ZN dan Serda RP.
Kronologi Disiplin Berujung Pemukulan Fatal
Peristiwa ini berawal pada Selasa (8/9) saat Serda MTS menghubungi Serda RP melalui sambungan telepon untuk meminta bantuan. Di tengah percakapan, panggilan telepon tersebut terputus secara mendadak oleh Serda RP.
Keesokan harinya, Rabu sekitar pukul 21.10 WIB di area belakang Mess Galaksi, Serda MTS memanggil Serda RP dan menjatuhkan tindakan disiplin fisik berupa push up dan sit up sebanyak 100 kali. Pada pukul 21.40 WIB, tiga rekan senior lainnya鈥擲erda JM, Serda MAD, dan Serda AH鈥攄atang bergabung di lokasi penindakan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Situasi berlanjut hingga pukul 23.05 WIB ketika Serda JM mulai melakukan kekerasan fisik terhadap Serda Ahmad Muzamil Fahrisa. Pelaku melayangkan pukulan tangan kosong berposisi terkepal sebanyak tiga kali tepat ke arah dada korban.
Setelah menerima hantaman ketiga, korban langsung terjatuh ke posisi jongkok, lemas, hingga pingsan tak sadarkan diri di lokasi kejadian.
Upaya Pertolongan dan Kepastian Medis
Melihat korban tidak sadarkan diri, para pelaku sempat berupaya menyadarkan Serda Ahmad secara mandiri. Mereka mengoleskan balsem atau minyak angin ke bagian hidung serta membasuh wajah dan tubuh korban dengan air, namun tidak membuahkan hasil.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dalam kondisi panik sekitar pukul 23.35 WIB, para pelaku melarikan korban menggunakan kendaraan dinas menuju instalasi gawat darurat (IGD) RS dr. Esnawan Antariksa atau RS Haji di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur. Sekitar pukul 23.45 WIB, tim medis IGD yang menangani Serda Ahmad menyatakan prajurit tersebut telah meninggal dunia.
Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, sempat menerima informasi awal yang membingungkan terkait wafatnya sang putra. Toni mengaku sempat ditelepon pada pukul 04.00 WIB dengan kabar bahwa anaknya meninggal akibat kecelakaan, sebelum rekan korban lainnya mengabarkan bahwa putranya tewas akibat kekerasan senior. Berdasarkan informasi pihak keluarga, terdapat tanda luka di bagian dagu dan dada korban.






