Ratusan ribu penumpang telantar dan ribuan jadwal penerbangan terganggu menyusul penutupan sementara delapan bandara di Indonesia akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Tak hanya melumpuhkan jalur transportasi udara, sebaran abu vulkanik juga berdampak langsung pada keseharian masyarakat di sekitar pesisir, mulai dari pembatalan aktivitas sekolah hingga berhentinya operasional para nelayan.
Erupsi gunung berapi di kawasan Selat Sunda tersebut mulai berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu vulkanik terdeteksi membubung hingga ketinggian 20.000 kaki atau 6.000 meter di sisi Jawa. Di area Sumatra, lontaran abu bahkan mencapai 50.000 kaki atau 15.000 meter serta menutupi sebagian wilayah Banten.
Sopir Travel Ditembak Mati KKB di Wamena, Pelaku Diburu

Skala gangguan ini memicu sorotan luas dari berbagai kantor berita internasional. Melalui laporan berjudul Indonesia's Anak Krakatau eruption halts flights, schools, fishing yang terbit Minggu (6/9/2026), Reuters memberitakan penutupan kegiatan belajar-mengajar di sejumlah sekolah setelah abu vulkanik menyebabkan iritasi mata pada murid dan warga sekitar. Media tersebut juga melaporkan keputusan para nelayan yang memilih menunda perjalanan melaut demi keselamatan.
Fokus serupa diangkat BBC International lewat pemberitaan bertajuk Volcano eruption leaves 170,000 passengers stranded in Indonesia. Mengacu pada data Kementerian Perhubungan, BBC melaporkan bahwa lebih dari 1.500 penerbangan di delapan bandara terdampak, dengan sekitar 170.000 penumpang tertahan. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta saja, tercatat 964 penerbangan terkena imbas setelah ruang udara sekitar bandara terpapar abu, memengaruhi rute domestik maupun internasional seperti penerbangan menuju Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, hingga Doha.
Truk Diduga Alami Rem Blong Tabrak Mobil Parkir dan Dua Bangunan di Jalur Puncak Bogor

Untuk meminimalkan dampak kesehatan, Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan mengimbau warga di area terdampak untuk mengenakan masker dan kacamata pelindung, mengurangi aktivitas luar ruangan, menutup tempat penampungan air, serta lebih waspada di jalan raya karena jarak pandang yang menurun. Mengingat riwayat erupsi Anak Krakatau pada 2018 yang pernah memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 400 orang di pesisir Jawa dan Sumatra, pemerintah memastikan bahwa aktivitas vulkanik kali ini tidak menunjukkan ancaman tsunami yang segera terjadi.






