Bagaimana sebenarnya latar belakang pelaku mutilasi di Depok yang memanfaatkan aplikasi media sosial untuk mencari korbannya? Pertanyaan ini terus mengemuka di tengah masyarakat setelah pihak kepolisian mengungkap rincian kasus kejahatan yang melibatkan seorang pria bernama Saepul. Pemuda berusia 26 tahun tersebut kini berstatus sebagai tersangka utama dalam perkara pembunuhan dan mutilasi terhadap seorang pria paruh baya berinisial K yang berumur 51 tahun. Jasad korban ditemukan secara mengenaskan di dalam sebuah karung yang diletakkan di sebuah lahan kosong di kawasan Depok. Pengungkapan kasus ini mengejutkan publik bukan hanya karena kekejaman tindakannya, melainkan juga karena rekam jejak kehidupan pelaku yang sangat kontras dengan perbuatan kriminal yang dilakukannya.
Bagaimana awal mula pertemuan antara pelaku dan korban terjalin melalui platform digital? Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, Saepul dan korban berinisial K pertama kali saling mengenal melalui sebuah aplikasi media sosial bernama Hornet. Aplikasi ini digunakan oleh tersangka untuk membangun komunikasi awal dengan korban. Tidak hanya itu, aparat kepolisian yang melakukan pemeriksaan mendalam terhadap telepon genggam milik tersangka menemukan bukti digital yang memperkuat profil sosialnya. Di dalam perangkat komunikasi tersebut, ditemukan data yang menunjukkan bahwa Saepul tergabung aktif dalam sebuah grup komunitas sesama jenis. Hubungan yang bermula dari interaksi digital di aplikasi Hornet tersebut kemudian berlanjut di dunia nyata hingga akhirnya berujung pada tragedi pembunuhan.








