tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Ekonomi Makro

Rincian Penurunan Saldo Anggaran Lebih Pemerintah Tahun 2025

Wulan WijayaDiterbitkan 30 Jul 2026 - 18.07 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Rincian Penurunan Saldo Anggaran Lebih Pemerintah Tahun 2025
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Pemerintah mengelola dana yang dikenal sebagai Saldo Anggaran Lebih (SAL) atau tabungan negara. Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), SAL pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Secara rinci, nilai SAL pada awal tahun 2025 tercatat sebesar Rp457,54 triliun. Sepanjang tahun tersebut, saldo ini menyusut sebesar Rp19,28 triliun atau setara dengan 4,21 persen, sehingga menyisakan SAL akhir sebesar Rp438,26 triliun. Penurunan ini tergolong jauh lebih besar dibandingkan dengan pergerakan pada tahun 2024. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 tabungan negara berkurang sebesar Rp1,95 triliun atau sekitar 0,42 persen, yaitu dari SAL awal sebesar Rp459,49 triliun menjadi SAL akhir sebesar Rp457,54 triliun.

Penyebab utama dari merosotnya tabungan negara pada tahun 2025 adalah peningkatan penggunaan SAL guna menambal defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menggunakan SAL sebagai salah satu sumber penerimaan pembiayaan tahun berjalan. Pada tahun 2025, jumlah SAL yang ditarik untuk pembiayaan mencapai Rp93,15 triliun. Angka ini melonjak 65,2 persen jika dibandingkan dengan penggunaan pada tahun 2024 yang sebesar Rp56,38 triliun. Di sisi lain, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun berjalan juga mengalami kenaikan sebesar 58,3 persen, yaitu dari Rp45,73 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp72,40 triliun pada tahun 2025.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer
Baca Juga

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

Selain penggunaan untuk pembiayaan defisit, terdapat perubahan pada pos penyesuaian pembukuan dan kas negara. Total penyesuaian pembukuan, yang meliputi koreksi SiLPA, koreksi kurs, serta koreksi kas Bendahara Umum Negara (BUN) dan sejenisnya, tercatat mengalami penurunan. Pada tahun 2024, angka koreksi pembukuan ini mencapai Rp9,29 triliun, sedangkan pada tahun 2025 menyusut menjadi Rp2,13 triliun. Akibatnya, total SAL sebelum adanya penyesuaian perhitungan fisik anjlok tajam, dari Rp458,49 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp232,81 triliun pada tahun 2025.

Penurunan ini juga terlihat pada saldo kas di berbagai instansi pemerintah. Saldo Akhir Kas BUN mengalami penyusutan sebesar Rp199,48 triliun atau sekitar 57 persen, dari Rp350,03 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp150,55 triliun pada tahun 2025. Hal yang sama terjadi pada kas Badan Layanan Umum (BLU) yang sudah disahkan, di mana nilainya turun sebesar Rp16,94 triliun dari Rp96,97 triliun menjadi Rp80,03 triliun. Penurunan paling drastis terjadi pada saldo kas hibah yang sudah disahkan di kementerian dan lembaga, yang anjlok hingga 89,2 persen dari Rp10,55 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp1,14 triliun pada tahun 2025.

Baca Juga

Partisipasi dalam Bursa Karbon Indonesia dan Peluang Nilai Ekonominya

Partisipasi dalam Bursa Karbon Indonesia dan Peluang Nilai Ekonominya

Meskipun banyak pos kas mengalami penurunan, terdapat perubahan dalam perhitungan fisik SAL tahun 2025. Pemerintah mencatatkan item baru yang tidak ada pada tahun 2024, yaitu Penempatan Dana di Bank Umum dengan nilai mencapai Rp206 triliun. Masuknya pos baru ini membuat total penyesuaian perhitungan fisik SAL pada tahun 2025 berbalik menjadi positif sebesar Rp205,46 triliun. Kondisi ini berbeda dengan tahun 2024 yang mencatatkan penyesuaian fisik negatif sebesar Rp941,88 miliar.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

APBNSaldo Anggaran LebihLKPPBadan Pemeriksa KeuanganKas Negara

Berita Terbaru Lainnya

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaMenyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaCara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPKMewaspadai Modus Ganjal ATM, Pelajaran dari Kasus Penyergapan di PamulangDampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Paling Banyak Dibaca

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Ekonomi Digital

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

30 Jul 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

Pasar Saham

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

Ekonomi Digital

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

30 Jul 2026

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

Regulasi & Kepatuhan

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  2. 2Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  3. 3IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaPasar Saham 路 30 Jul 2026
  4. 4Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  5. 5Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaEkonomi Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap