Penggunaan ban bekas vulkanisir pada sepeda motor saat ini terpantau semakin marak di berbagai wilayah di Indonesia. Fenomena ini terutama didorong oleh faktor ekonomi, di mana harga ban vulkanisir jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan ban baru yang beredar di pasaran. Bagi banyak pemilik kendaraan bermotor, keberadaan ban murah ini menjadi alternatif yang menarik untuk menekan biaya perawatan kendaraan mereka. Hal ini membuat permintaan terhadap ban bekas yang telah diolah kembali tetap tinggi di tengah masyarakat.
Secara teknis, proses pembuatan ban motor bekas vulkanisir ini memanfaatkan ban-ban bekas yang dinilai masih layak pakai. Kriteria utama ban bekas yang dapat digunakan kembali adalah kondisinya yang tidak berlubang dan permukaannya yang masih relatif tebal. Sebelum dipasarkan kembali kepada konsumen, ban motor bekas tersebut harus melewati proses vulkanisir terlebih dahulu. Proses ini dilakukan dengan cara memperbaiki bagian ulir ban yang telah aus, kemudian mengukir ulang ulir tersebut agar tampak seperti baru dan siap digunakan kembali di jalan raya.
Aktivitas pengolahan ban bekas ini melibatkan para pekerja terampil yang mampu memproses puluhan ban setiap harinya. Sebagai contoh, pengerjaan pengerikan ulang ban motor bekas ini terpantau dilakukan oleh seorang pekerja di kawasan Beji, Depok, Jawa Barat, pada hari Selasa, 11 Agustus 2026. Dalam satu hari kerja, seorang pekerja dilaporkan mampu menyelesaikan proses pengerikan ulang atau vulkanisir sebanyak 20 hingga 50 buah ban motor bekas. Kapasitas produksi yang cukup besar ini menunjukkan adanya pasokan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Dari sisi penjualan, ban motor bekas hasil vulkanisir ini dipasarkan dengan harga yang sangat bervariasi dan ramah di kantong. Konsumen dapat membeli ban tersebut dengan harga mulai dari Rp30.000 hingga Rp150.000 per buah, tergantung pada ukuran ban serta kondisi fisik dari ban bekas yang digunakan. Dengan harga yang miring tersebut, minat pembeli pun tergolong tinggi. Dalam kurun waktu satu hari saja, penjual biasanya mampu memasarkan sekitar 4 sampai 6 pasang ban kerik kepada para pengendara motor yang datang mencari ban murah.
Meskipun menawarkan keuntungan dari segi finansial karena harganya yang sangat murah, penggunaan ban vulkanisir ini bukannya tanpa risiko. Kualitas serta daya tahan ban vulkanisir tidak selalu sebanding dengan ban baru yang diproduksi secara standar oleh pabrikan. Perbedaan kualitas ini tentu berpotensi mempengaruhi keselamatan berkendara bagi para penggunanya. Mengingat ban adalah komponen vital yang bersentuhan langsung dengan aspal, keterbatasan kualitas pada ban vulkanisir dapat memicu risiko keselamatan di jalan raya jika pengendara tidak berhati-hati dalam memilih dan menggunakannya.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Oleh karena itu, maraknya peredaran ban bekas vulkanisir di Indonesia menjadi hal yang perlu disikapi dengan bijak oleh para pengendara sepeda motor. Keputusan untuk menggunakan ban murah ini harus mempertimbangkan aspek keselamatan secara matang, bukan sekadar melihat faktor keekonomian semata. Mengingat daya tahan ban vulkanisir yang tidak setara dengan ban baru, pemahaman akan risiko berkendara menjadi sangat penting agar penggunaan ban jenis ini tidak membahayakan keselamatan jiwa di jalan raya.






