Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda terapresiasi 0,03% dan mengakhiri sesi pasar di level Rp17.625 per dolar AS.
Pergerakan mata uang domestik sempat dibuka melemah 0,03% di posisi Rp17.635 per dolar AS pada awal sesi. Namun, rupiah berhasil bangkit dan naik 10 poin menjelang penutupan perdagangan harian. Sepanjang hari, nilai tukar berfluktuasi aktif dalam rentang Rp17.590 hingga Rp17.635 per dolar AS.
Faktor Penggerak Pasar dan Sentimen Eksternal
Apresiasi tipis rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks DXY yang mengukur performa dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat turun 0,26% ke level 98,915. Penurunan dolar ini memberi ruang bagi mata uang kawasan untuk sedikit bernapas lega.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Mega Capital Sekuritas sebelumnya memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Proyeksi tersebut didorong oleh kombinasi pelemahan indeks dolar serta imbas lanjutan dari apresiasi yen Jepang.
Di pasar obligasi dalam negeri, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10 tahun tercatat turun tipis 0,5 basis poin ke level 7,11%.
Ketidakpastian Suku Bunga Global dan Tekanan Energi
Meskipun rupiah membukukan penguatan harian, sentimen global masih dipenuhi ketidakpastian jelang agenda bank sentral utama dunia. Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menggelar pertemuan FOMC pada 15–16 September mendatang.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Menyusul rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih solid dari ekspektasi pada akhir pekan lalu, pelaku pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sekitar 60% bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini.
Di sisi lain, dinamika geopolitik kawasan Teluk turut memicu kehati-hatian investor. Harga minyak mentah Brent masih bertengger di atas US$97 per barel dan mendekati posisi tertinggi dalam enam pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh peringatan dari Iran terkait kerentanan fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk infrastruktur minyak dan gas yang terhubung dengan kepentingan AS.






