Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Selasa (15/9/2026). Mengacu pada data Refinitiv, mata uang Garuda terkoreksi 0,06% ke posisi Rp17.650 per dolar AS. Pelemahan pagi ini memperpanjang tekanan pada mata uang domestik setelah pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2026) rupiah juga terdepresiasi 0,31% ke level Rp17.640 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan penguatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY), yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,20% ke level 99,588 pada pukul 09.00 WIB.
Tekanan Geopolitik dan Ekspektasi Bunga The Fed
Kombinasi ketegangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter global menjadi faktor pemicu volatilitas pasar saat ini. Lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat melesat sekitar 5% hingga menyentuh US$109,80 per barel terjadi menyusul serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi. Situasi pasokan energi kian mengkhawatirkan setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama pemintas Selat Hormuz, sementara rute distribusi menuju Laut Merah turut berada di bawah ancaman. Di saat yang sama, langkah diplomasi guna meredakan eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran terhambat seiring penundaan agenda pertemuan antara pihak Iran dan beberapa negara Teluk.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Faktor lain yang membayangi pergerakan nilai tukar adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September ini. Kalkulasi pasar melalui perangkat CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed mencapai sekitar 90%, melonjak tajam dibandingkan posisi pekan lalu yang berada di level 60%.
Transisi Fiskal di Pasar Domestik
Di tingkat domestik, dinamika pasar mata uang berlangsung beriringan dengan pergantian kepemimpinan di tubuh otoritas fiskal. Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026), menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Menanggapi dinamika ekonomi ke depan, Suahasil menyatakan komitmen utamanya tertuju pada pemeliharaan kesehatan dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penjagaan disiplin fiskal tersebut diposisikan sebagai pilar krusial guna memastikan kelancaran pembiayaan seluruh program prioritas pemerintah di tengah gejolak eksternal.






