Raksasa energi asal Inggris, Shell, secara resmi mengumumkan langkah strategis terbaru dalam penataan portofolio bisnis perusahaan secara global. Perusahaan memutuskan untuk melepas sejumlah aset gas strategis yang berlokasi di kawasan Mediterania Timur. Nilai dari transaksi pelepasan aset ini mencapai angka hingga US$720 juta, atau apabila dikonversikan setara dengan sekitar Rp13 triliun. Langkah divestasi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan yang kini semakin agresif dalam memperkuat posisinya di pasar energi global, khususnya pada sektor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Keputusan ini diambil sejalan dengan dinamika pasar di mana permintaan terhadap komoditas LNG terus mengalami peningkatan yang signifikan di berbagai belahan dunia.
Dalam kesepakatan transaksi yang bernilai belasan triliun rupiah tersebut, Shell sepakat untuk menjual salah satu unit usahanya yang beroperasi di Siprus, yakni BG Cyprus. Pihak yang bertindak sebagai pembeli dalam pengambilalihan aset strategis ini adalah perusahaan minyak dan gas yang berasal dari Hungaria, yaitu MOL Group. Melalui kesepakatan bisnis yang telah dicapai oleh kedua belah pihak, MOL Group nantinya akan mendapatkan kendali penuh atas kepemilikan saham yang sebelumnya dipegang oleh unit usaha Shell tersebut di kawasan Mediterania Timur.
Lebih rincinya, transaksi penjualan unit usaha BG Cyprus ini akan memberikan MOL Group kendali atas 35 persen saham nonoperator. Kepemilikan saham nonoperator sebesar 35 persen tersebut berada di salah satu blok lepas pantai yang terletak di perairan Siprus. Blok lepas pantai ini memiliki peran yang sangat penting karena merupakan lokasi dari ladang gas Aphrodite. Ladang gas Aphrodite sendiri dikenal sebagai salah satu proyek energi yang memegang peranan krusial dalam peta pasokan energi di kawasan Mediterania Timur.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Meskipun kesepakatan antara Shell dan MOL Group telah diumumkan kepada publik, proses pengalihan aset ini tidak akan serta-merta selesai dalam waktu dekat. Penyelesaian transaksi pelepasan aset BG Cyprus tersebut diperkirakan baru akan berlangsung dan rampung sepenuhnya pada tahun 2027 mendatang. Proyeksi waktu penyelesaian pada tahun 2027 tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan berbagai tahapan yang harus dilalui, khususnya terkait pemenuhan seluruh persyaratan serta proses regulasi yang berlaku sebelum kepemilikan aset resmi berpindah tangan.
Presiden Integrated Gas Shell, Cederic Cremers, memberikan pernyataan resmi terkait latar belakang di balik keputusan pelepasan aset di Siprus tersebut. Menurut penjelasan Cremers, keputusan perusahaan untuk keluar dari proyek ladang gas Aphrodite merupakan bagian dari implementasi strategi alokasi modal yang lebih disiplin. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk keluar didorong oleh alokasi modal yang disiplin serta pilihan portofolio bisnis perusahaan, seiring dengan fokus Shell pada berbagai peluang yang mampu memperkuat rantai nilai LNG terintegrasi yang dimiliki oleh perusahaan energi asal Inggris tersebut.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Sejalan dengan pernyataan tersebut, manajemen Shell juga memaparkan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah memperbesar eksposur pada bisnis LNG di tingkat global. Pergeseran fokus investasi ini didasari oleh penilaian internal perusahaan terhadap prospek masa depan komoditas energi. Shell menilai bahwa bisnis gas alam cair atau LNG memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang jauh lebih menarik jika dibandingkan dengan sejumlah aset gas konvensional lainnya. Oleh karena itu, pelepasan aset di kawasan Mediterania Timur menjadi langkah logis bagi Shell untuk memusatkan sumber daya dan modalnya pada pengembangan sektor LNG yang dinilai lebih menjanjikan secara bisnis.






