Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat bahwa saat ini terdapat sekitar 1,57 juta barel minyak yang sudah berada di permukaan dan siap untuk diangkat atau lifting. Keberadaan stok ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan minyak mentah nasional.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa sebagian dari total 1,57 juta barel minyak siap lifting tersebut telah dibeli oleh Pertamina. Dari jumlah tersebut, sebanyak 880 ribu barel atau setara 0,88 juta barel sudah dibayar lunas oleh pihak Pertamina, meskipun komoditas minyak tersebut saat ini belum ditransfer secara fisik.
Penanganan Minyak Berat yang Membeku di Tangki
Selain stok yang siap untuk didistribusikan, Djoko mengungkapkan adanya minyak cadangan mati atau dead stock sekitar 2,57 juta barel yang sudah diangkat ke permukaan namun masih tertahan di dalam tangki penyimpanan. Minyak mentah tersebut belum dapat langsung di-lifting karena memiliki karakteristik minyak berat (heavy oil) yang menyebabkannya membeku di dalam tangki.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Agar seluruh volume minyak tersebut dapat diangkut dan dimanfaatkan, cairan minyak yang membeku harus dicairkan terlebih dahulu. Terkait penanganannya, SKK Migas menargetkan penandatanganan kontrak pencairan untuk 2,57 juta barel minyak beku di tangki tersebut dapat diselesaikan pada hari Jumat.
Potensi Tambahan untuk Mengejar Target Lifting
Langkah pencairan minyak yang tersimpan di dalam tangki dinilai sangat penting untuk mendongkrak capaian lifting hulu migas. Menurut Djoko, pencairan stok minyak berat yang membeku tersebut memiliki potensi untuk memberikan tambahan volume lifting hingga 6.800 barel per hari (bph).
MNK Rokan, Tonggak Baru Pertamina Kembangkan Migas Non Konvensional

Optimalisasi persediaan minyak permukaan dan pencairan minyak tangki ini terus dipacu guna mengejar target lifting minyak nasional tahun ini, yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 610.000 bph.






