Bank DBS Indonesia menyusun langkah strategis dalam mengelola risiko aset otomotif di tengah transisi menuju era kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Perseroan menerapkan sistem pemetaan (mapping) komponen kendaraan guna menilai risiko aset dan menentukan arah pembiayaan pada sektor internal combustion engine (ICE) beserta rantai pasok pendukungnya.
Melalui pemetaan tersebut, Bank DBS Indonesia mengelompokkan komponen kendaraan ke dalam tiga kategori utama, yaitu komponen yang eksklusif digunakan pada kendaraan ICE, komponen yang eksklusif untuk kendaraan EV, serta komponen yang dipakai secara bersamaan pada kedua jenis sistem penggerak (drivetrain).
Prioritas pada Komponen Bersama
Berdasarkan pemetaan tersebut, DBS memprioritaskan pembiayaan pada komponen kendaraan yang digunakan di kedua model, baik ICE maupun EV. Kategori suku cadang ini mencakup ban mobil, komponen kelistrikan, sistem penyejuk udara (AC), perangkat audio, hingga sistem pengereman (braking).
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Komponen-komponen tersebut dinilai memiliki daya tahan bisnis yang kuat dalam jangka panjang karena akan terus dibutuhkan oleh industri otomotif, terlepas dari apakah kendaraan yang diproduksi menggunakan teknologi penggerak ICE ataupun EV.
Prospek Koeksistensi dan Konsolidasi Pasar
Terkait lanskap industri secara keseluruhan, DBS memproyeksikan bahwa teknologi ICE dan EV akan terus hidup berdampingan (coexist) dalam kurun waktu yang cukup lama. Kondisi ini dipengaruhi oleh pola konsumsi massal yang masih berlangsung di pasar.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, perusahaan yang hanya terkonsentrasi pada segmen ICE tidak serta-merta dinilai kehilangan prospek usaha. Walau demikian, DBS tetap memberlakukan prinsip kehati-hatian ekstra dalam menyalurkan fasilitas pembiayaan ke segmen yang murni berfokus pada ICE.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Ke depan, pasar ICE berpotensi mengalami proses konsolidasi bisnis. Dalam perkembangan tersebut, persaingan pasar diperkirakan akan menyaring entitas bisnis sehingga hanya pemain-pemain yang kuat yang dapat bertahan di industri.
Untuk merespons dinamika ini, Bank DBS Indonesia turut mendorong perusahaan-perusahaan yang masih berfokus pada segmen ICE agar mulai beradaptasi. Perseroan memanfaatkan hasil pemetaan komponen dan strategi resetter type miliknya sebagai basis penentuan arah pembiayaan di masa mendatang.






