Ketidakpastian ekonomi global saat ini masih berada pada tingkat yang tinggi. Hal ini menjadi perhatian utama bagi otoritas moneter di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyoroti tantangan ini dalam sebuah pemaparan secara daring. Pernyataan tersebut disampaikan pada acara Editors Briefing yang berlokasi di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Di tengah dinamika pergerakan pasar keuangan internasional, Bank Indonesia telah merumuskan berbagai penyesuaian kebijakan. Langkah ini sangat penting bagi para pelaku ekonomi, investor, maupun masyarakat yang ingin memahami arah kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar ke depan. Berikut adalah sejumlah pertanyaan umum terkait langkah strategis bank sentral dalam merespons situasi ekonomi terkini.
Apa yang menyebabkan dunia berpotensi menghadapi era suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama?
Potensi perpanjangan periode suku bunga tinggi, atau yang sering disebut sebagai situasi higher for longer, sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter di tingkat global. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Pernyataan dari The Fed menunjukkan bahwa mereka masih sangat berhati-hati dalam merespons kondisi ekonomi saat ini. Sikap The Fed yang masih hawkish ini pada akhirnya menciptakan ketidakpastian yang berdampak luas. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia karena memiliki potensi besar untuk memengaruhi arus modal asing, pergerakan nilai tukar mata uang, hingga stabilitas pasar keuangan domestik secara keseluruhan.
Bagaimana respons Bank Indonesia terkait kebijakan suku bunga acuan dan pengendalian inflasi domestik?
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dalam menghadapi tekanan global tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah tegas dengan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen. Kebijakan untuk menahan suku bunga di angka 5,75 persen ini merupakan langkah antisipatif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan tingkat inflasi tetap terkendali. Saat ini, tantangan utama yang dihadapi adalah mengantisipasi tekanan inflasi, khususnya pada sektor pangan. Berdasarkan data terkini, inflasi pangan di Indonesia masih berada di atas level 5 persen. Di sisi lain, otoritas moneter menilai bahwa tingkat inflasi inti masih berada pada level yang sangat terkendali, sehingga kebijakan menahan suku bunga dianggap sebagai langkah yang paling tepat untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional.
Apa strategi yang diterapkan untuk menarik aliran modal asing dan memperkuat cadangan devisa?
Untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter yang tersedia. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melakukan penyesuaian imbal hasil pada instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Penyesuaian tingkat imbal hasil ini terbukti berhasil mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan dalam negeri. Tercatat hingga awal pekan ini, total aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara atau SBN serta instrumen SRBI telah mencapai angka sekitar 10 miliar dolar AS. Masuknya arus modal dalam jumlah besar ini dinilai sangat krusial karena dapat memperkuat posisi cadangan devisa negara sekaligus memberikan dukungan penuh terhadap stabilitas pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.
Bagaimana dukungan Bank Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor usaha mikro?
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Di samping instrumen moneter, Bank Indonesia tetap menjalankan kebijakan makroprudensial yang bersifat akomodatif guna mendukung laju pertumbuhan ekonomi nasional. Otoritas moneter secara konsisten terus memberikan insentif likuiditas kepada pihak perbankan yang aktif menyalurkan kredit pembiayaan ke berbagai sektor prioritas. Salah satu sektor prioritas yang mendapatkan perhatian khusus adalah usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Lebih jauh lagi, Bank Indonesia juga tengah menyiapkan rumusan kebijakan makroprudensial baru yang dirancang untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan secara maksimal. Melalui kebijakan baru ini, bank-bank diharapkan dapat lebih banyak menyalurkan kredit secara langsung ke sektor riil, alih-alih hanya menempatkan dana menganggur mereka pada instrumen surat berharga.
Mengapa terjadi pergantian kepemimpinan dan siapa yang memimpin Bank Indonesia saat ini?
Kepemimpinan di tubuh Bank Indonesia saat ini tengah berada dalam masa transisi setelah Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Untuk mengisi kekosongan kursi kepemimpinan dan memastikan operasional bank sentral tetap berjalan lancar, Destry Damayanti kini menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia. Sebelumnya, Destry Damayanti memegang jabatan strategis sebagai Deputi Gubernur Senior. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, ia akan terus mengeksekusi tugas pokok sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga seluruh proses penunjukan serta penetapan gubernur definitif yang baru selesai dilakukan. Meskipun terjadi perubahan di pucuk pimpinan, dipastikan bahwa tidak ada perubahan arah kebijakan pokok, di mana bank sentral akan tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.






