Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 melandai ke angka 116,8. Posisi ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan Juni 2026 yang sempat menyentuh angka 117,8. Menanggapi penurunan ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa penurunan konsumsi pasca-momentum hari raya seperti Ramadan dan Lebaran merupakan hal yang wajar terjadi. Meskipun demikian, angka IKK yang berada di atas 100 menunjukkan bahwa keyakinan konsumen Indonesia secara umum masih berada di level yang optimis.
Penurunan IKK ini dipengaruhi oleh melorotnya beberapa indeks pembentuknya. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat turun dari 109,2 menjadi 107,9 pada Juli 2026. Penurunan juga terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 126,4 menjadi 125,7. Beberapa indikator internal seperti Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun dari 119,8 menjadi 118,5, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) bergeser dari 101,8 ke 101,1, serta Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) yang melemah dari 105,9 ke 104,1. Di sisi ekspektasi, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja turun dari 124,4 menjadi 123,1, dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha turun dari 121,2 menjadi 120,4.
Bagi para pelaku usaha digital dan kreator ekonomi, fluktuasi keyakinan konsumen ini menuntut penyesuaian strategi penjualan agar pendapatan tetap terjaga. Langkah pertama yang bisa diambil adalah memanfaatkan momentum diskon musiman. Menko Airlangga menyebutkan bahwa pada kuartal III-2026, sejumlah pusat perbelanjaan atau mal berencana menghadirkan program diskon khusus dalam rangka menyambut perayaan 17 Agustus. Pelaku bisnis online dapat menyelaraskan kampanye pemasaran mereka dengan momentum promosi kemerdekaan ini untuk merangsang kembali minat belanja konsumen yang sedang menahan diri.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Langkah berikutnya adalah jeli melihat sektor yang masih menunjukkan kinerja positif. Meskipun Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) secara umum turun ke angka 104,1, sektor otomotif justru mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Sepanjang semester 1, penjualan otomotif tumbuh sebesar 16 persen, bahkan penjualan kendaraan hybrid melonjak hingga 40 persen. Bagi pelaku bisnis afiliasi atau pembuat konten di bidang otomotif dan teknologi, tren ini dapat dimanfaatkan untuk memfokuskan promosi pada produk-produk ramah lingkungan atau kendaraan hybrid yang sedang diminati pasar.
Menariknya, di tengah penurunan berbagai indikator, Indeks Ekspektasi Penghasilan konsumen tidak mengalami perubahan dan tetap bertahan stabil di angka 133,6. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih meyakini pendapatan mereka di masa depan akan tetap aman. Pelaku usaha dapat memanfaatkan optimisme ini dengan menawarkan produk atau layanan yang memiliki nilai jangka panjang. Fokuskan pesan pemasaran pada efisiensi biaya dan manfaat berkelanjutan, mengingat konsumen cenderung lebih selektif namun tetap memiliki daya beli yang memadai.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Pemerintah memproyeksikan daya beli masyarakat akan kembali menguat menjelang akhir tahun. Menko Airlangga berharap IKK dan kekuatan belanja konsumen akan kembali bertenaga pada kuartal IV-2026, didorong oleh momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026-2027. Dengan memahami pola musiman ini, pelaku ekonomi digital dapat merancang lini produk dan anggaran pemasaran mereka sejak dini guna menyambut lonjakan konsumsi di penghujung tahun.






