tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Ekonomi Digital & Bisnis

Strategi dan Cara Mengelola Aksesibilitas Pusat Perbelanjaan untuk Menertibkan Alur Pengunjung

Ance ManoppoDiterbitkan 1 Agu 2026 - 00.21 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Strategi dan Cara Mengelola Aksesibilitas Pusat Perbelanjaan untuk Menertibkan Alur Pengunjung
Foto/Ilustrasi: finance.detik.com.
A-A+

Pusat perbelanjaan atau mal di Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan operasional dalam mengelola akses luar ruang dan pergerakan pengunjung. Sejumlah mal di Tanah Air dikabarkan mulai memasang pagar tinggi-tinggi sebagai salah satu metode pengaturan akses. Berdasarkan catatan yang ada, terdapat beberapa mal yang memasang pagar besi tinggi di Surabaya, dan yang teranyar mal Kota Kasablanka (Kokas) juga memasang pagar serupa. Di sisi lain, ada pendekatan berbeda yang diambil oleh pengembang lain. Contohnya adalah Lippo Group yang memiliki banyak pusat perbelanjaan di Indonesia. Alih-alih memasang pagar tinggi, mereka justru membongkar pembatas. Bagi para pelaku usaha ritel dan pengelola pusat belanja, menentukan metode pengaturan akses yang tepat merupakan langkah krusial agar operasional bisnis tetap berjalan tertib. Berikut adalah panduan dan cara mengevaluasi pengaturan aksesibilitas mal yang dapat dipertimbangkan oleh pengelola.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer

Langkah pertama dalam pengelolaan aksesibilitas mal adalah menganalisis dan menertibkan arus pergerakan pengunjung untuk mencegah risiko lalu lintas di sekitar area komersial. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memberikan penjelasan terkait hal ini pada Kamis (30/7/2026) di kantor Kementerian Perdagangan. Menurutnya, tujuan utama dari pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal adalah untuk menertibkan arus keluar masuk pengunjung. Pengelola perlu memahami bahwa jika akses dibiarkan terbuka sepenuhnya, pengunjung dapat masuk dan keluar dari mana saja. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena dapat membahayakan lalu lintas di sekitar pusat perbelanjaan. Oleh karena itu, pengelola harus memetakan titik akses masuk dan keluar yang terpusat agar pergerakan pengunjung lebih terarah dan aman bagi lingkungan sekitar.

Langkah kedua adalah memastikan bahwa kebijakan pengaturan akses selaras dengan kondisi riil di lapangan dan bukan didasarkan pada isu keamanan umum yang tidak berdasar. Menteri Perdagangan Budi Santoso telah menyampaikan bahwa pemasangan pagar tinggi di mal tidak ada kaitannya dengan isu keamanan. Pernyataan ini disampaikannya setelah melakukan koordinasi secara langsung dengan sejumlah asosiasi pelaku usaha, mulai dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) hingga Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Menteri Perdagangan menegaskan kembali bahwa dari hasil koordinasi tersebut, tidak ada masalah atau isu keamanan yang melatarbelakangi tren pemagaran ini. Pengelola mal harus mendasarkan keputusan operasional mereka pada manajemen arus lalu lintas pengunjung secara murni, sehingga tidak menimbulkan spekulasi yang keliru di mata publik maupun pelaku bisnis ritel lainnya.

Baca Juga

Perkembangan Proyek PLTA Batang Toru dan Target Energi Bersih di Sumatera

Perkembangan Proyek PLTA Batang Toru dan Target Energi Bersih di Sumatera

Langkah ketiga adalah mengevaluasi tingkat risiko lokasi pusat perbelanjaan secara spesifik berdasarkan letak geografisnya. Pemasangan pagar pada pusat perbelanjaan sebetulnya bukan merupakan hal baru di Indonesia, karena banyak juga mal yang sejak awal memasang pagar sejak awal pembangunannya. Lebih lanjut, Alphonzus Widjaja menilai bahwa pagar besi ini sering kali dipasang pada mal yang berada di pusat kota yang sering dilintasi atau menjadi titik demonstrasi. Untuk mal-mal dengan karakteristik lokasi seperti ini, pagar besi menjadi salah satu langkah pengamanan dari pengelola mal guna mengantisipasi kondisi di luar kendali operasional harian. Oleh sebab itu, pengelola harus melakukan asesmen apakah lokasi mal mereka berada di pusat kota yang rentan terhadap aksi massa, sehingga memerlukan perlindungan fisik berupa pagar yang lebih tinggi.

Langkah keempat adalah mempertimbangkan penerapan konsep area terbuka sebagai alternatif strategi operasional, terutama jika lokasi mal tidak berada di titik rawan demonstrasi. Strategi ini telah diimplementasikan oleh Lippo Group. CEO Lippo Group, James Riady, menyatakan bahwa pihaknya tidak memasang pagar tinggi, melainkan banyak membongkar atau menurunkan pembatas antara mal-mal yang mereka miliki dengan kawasan sekitar. Hal tersebut disampaikan oleh James Riady saat ditemui wartawan usai pertemuan Kadin Indonesia dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Jumat (31/7/2026). Ia menegaskan bahwa yang terjadi selama 10 tahun ini adalah semua pagar di mal-mal Lippo dibongkar dan diturunkan. Keputusan untuk membuka akses tanpa pagar tinggi ini dapat menjadi referensi bagi pengelola yang ingin mengintegrasikan pusat perbelanjaannya dengan kawasan sekitar secara lebih leluasa.

Baca Juga

Penjelasan Pemerintah Terkait Fenomena Pagar Tinggi di Pusat Perbelanjaan

Penjelasan Pemerintah Terkait Fenomena Pagar Tinggi di Pusat Perbelanjaan

Sebagai kesimpulan, strategi pengelolaan akses dan arus pengunjung sangat bergantung pada evaluasi mendalam terhadap kebutuhan spesifik masing-masing pusat perbelanjaan. Pengelola dapat memilih untuk menertibkan arus keluar masuk pengunjung dan mengamankan titik demonstrasi dengan pagar tinggi, seperti yang dilakukan beberapa mal di Surabaya dan Kota Kasablanka. Di sisi lain, pengelola juga dapat mengadopsi pendekatan terbuka yang dilakukan oleh Lippo Group selama 10 tahun terakhir. Keputusan akhir harus mempertimbangkan faktor keselamatan lalu lintas, hasil koordinasi dengan asosiasi pengusaha seperti APPBI dan APINDO, serta informasi dari Kementerian Perdagangan agar operasional pusat perbelanjaan tetap optimal dan kondusif.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

APPBIKementerian PerdaganganPusat PerbelanjaanManajemen RitelLippo Group

Berita Terbaru Lainnya

Perkembangan Proyek PLTA Batang Toru dan Target Energi Bersih di SumateraPenjelasan Pemerintah Terkait Fenomena Pagar Tinggi di Pusat PerbelanjaanCara Membangun Dedikasi Kerja dan Keseimbangan Keluarga ala Penerima Hoegeng Awards 2026Inovasi Manajemen Basis Data Brigadir Renita Rismayanti dalam Transformasi Digital Misi PBBAlasan Pemasangan Pagar Tinggi di Pusat Perbelanjaan Menurut Pemerintah dan AsosiasiCara Pelaku Usaha Daerah Memahami Ancaman Devide et Impera pada Perekonomian NasionalPanduan Program Sekolah Rakyat Terintegrasi Lampung, Fasilitas, Kurikulum, dan Pengembangan Sumber Daya ManusiaPanduan Wisata Sejarah Jambi, Fasilitas Digital Museum Sriwijaya Dharmakirti dan Potensi Ekonomi Lokal

Paling Banyak Dibaca

Cara Membangun Kepercayaan Masyarakat di Wilayah Konflik, Pelajaran dari Iptu Motalip Litiloly

Manajemen & Kepemimpinan

Cara Membangun Kepercayaan Masyarakat di Wilayah Konflik, Pelajaran dari Iptu Motalip Litiloly

1 Agu 2026

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

Ekonomi Digital

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

31 Jul 2026

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

Profesi & Regulasi

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

31 Jul 2026

Memahami Pengaruh Dinamika Survei Politik terhadap Sektor Ekonomi Digital

Ekonomi Digital

Memahami Pengaruh Dinamika Survei Politik terhadap Sektor Ekonomi Digital

31 Jul 2026

Strategi Bank Indonesia Menghadapi Era Suku Bunga Tinggi Global dan Tantangan Inflasi

Ekonomi Digital & Pendapatan

Strategi Bank Indonesia Menghadapi Era Suku Bunga Tinggi Global dan Tantangan Inflasi

31 Jul 2026

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS dan Faktor Penentu Kebijakan Global

Ekonomi & Keuangan

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS dan Faktor Penentu Kebijakan Global

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Cara Membangun Kepercayaan Masyarakat di Wilayah Konflik, Pelajaran dari Iptu Motalip LitilolyManajemen & Kepemimpinan 路 1 Agu 2026
  2. 2Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFGEkonomi Digital 路 31 Jul 2026
  3. 3Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKDProfesi & Regulasi 路 31 Jul 2026
  4. 4Memahami Pengaruh Dinamika Survei Politik terhadap Sektor Ekonomi DigitalEkonomi Digital 路 31 Jul 2026
  5. 5Strategi Bank Indonesia Menghadapi Era Suku Bunga Tinggi Global dan Tantangan InflasiEkonomi Digital & Pendapatan 路 31 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap