Pemberdayaan wilayah perdesaan sering kali membutuhkan integrasi yang kuat antara potensi alam dan identitas budaya setempat untuk menggerakkan perekonomian. Salah satu contoh nyata dari langkah ini dapat dilihat dari Desa Tambakmekar, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Melalui langkah terstruktur, desa ini berhasil mengembangkan potensi wisata berbasis alam dan kearifan lokal dengan menyelenggarakan Festival Pinus Kujang 2026 di kawasan Timman Hill pada 1-2 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan ini dapat menjadi model bagi desa lain yang ingin mengoptimalkan daya tarik lokal mereka demi kemajuan ekonomi dan sosial.
Langkah pertama yang krusial dalam pengembangan ekonomi kreatif desa adalah menyatukan berbagai elemen daya tarik dalam satu tema yang terintegrasi. Desa Tambakmekar memilih tema Mulasara Potensi Alam, Kesenian, Budaya, Kuliner, dan Permainan Tradisional. Melalui pendekatan ini, potensi alam tidak berdiri sendiri, melainkan digabungkan dengan kesenian, budaya, kuliner khas, hingga permainan tradisional sebagai daya tarik wisata. Penggabungan berbagai unsur ini membuat destinasi wisata memiliki narasi yang lebih kuat dan mampu menarik minat pengunjung yang lebih luas.
Langkah kedua berfokus pada penyusunan kemitraan strategis dan pengajuan pendanaan eksternal. Festival Pinus Kujang merupakan kegiatan Program Pengabdian Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai oleh Deden Rizal R berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada tahun 2026. Keberadaan dukungan akademis menegaskan bahwa pengembangan destinasi wisata harus mampu memberikan manfaat luas, tidak hanya bagi sektor pariwisata, tetapi juga bagi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat, sebagaimana disampaikan oleh Rektor Universitas Sangga Buana YPKP Didin Saepudin.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Langkah ketiga melibatkan kolaborasi lintas sektor yang inklusif di tingkat tapak. Pengembangan wisata tidak akan berjalan optimal tanpa keterlibatan aktif masyarakat lokal. Kegiatan di Desa Tambakmekar ini melibatkan pelaku UMKM, pelaku seni dan budaya, serta pemerintah daerah. Selain itu, pertunjukan seni yang disajikan juga melibatkan mahasiswa serta sanggar seni setempat. Keterlibatan aktif berbagai pihak ini memastikan adanya sinergi sekaligus menjaga keberlanjutan perputaran ekonomi di desa tersebut.
Langkah keempat adalah menonjolkan keunikan seni tradisional dengan memanfaatkan hasil bumi lokal sebagai properti pertunjukan. Dalam festival tersebut, sejumlah kesenian tradisional khas Subang seperti Sisingaan, Singa Abrug, angklung, tari jaipong, dan pencak silat ditampilkan secara apik. Pertunjukan Singa Abrug secara kreatif menggunakan properti berbahan hasil hutan, seperti bunga rotan, daun pinus, dan daun nanas. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas lokal mampu meningkatkan daya tarik seni pertunjukan sekaligus mengoptimalkan sumber daya alam yang ada.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Langkah kelima adalah mengemas potensi gastronomi lokal sebagai daya tarik wisata kuliner yang bernilai jual. Dengan melibatkan pakar gastronomi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dewi Turgarini, festival ini menonjolkan sejumlah produk kuliner khas seperti ikan lemeng, olahan jamur, wajit nanas, dan karedok. Kehadiran kuliner khas yang dikurasi dengan baik memberikan pengalaman yang lengkap bagi wisatawan, sekaligus membuka peluang pendapatan langsung bagi para pelaku UMKM kuliner di wilayah tersebut.






