JAKARTA — Pemerintah membutuhkan sumber pertumbuhan ekonomi baru guna mengejar target pertumbuhan sebesar 8 persen. Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pencapaian target ambisius tersebut memerlukan upaya ekstra dan tidak cukup hanya mengandalkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang konvensional.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menyatakan bahwa sejumlah instrumen strategis seperti investasi, ekspor, belanja pemerintah, penyaluran kredit UMKM, serta transisi energi harus diarahkan secara tepat agar dapat memberikan dampak yang jauh lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Dalam forum Sarasehan 100 Ekonom pada Kamis (3/9/2026), Esther menekankan pentingnya mencari terobosan baru. Menurutnya, pencapaian target 8 persen membutuhkan kerja ekstra dari berbagai lini untuk menemukan penggerak ekonomi yang baru dan efektif.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Kualitas Investasi dan Lapangan Kerja
Esther menjelaskan bahwa keberhasilan penanaman modal atau investasi saat ini tidak boleh semata-mata diukur dari tingginya angka atau nilai modal yang masuk. Indikator utama yang jauh lebih krusial adalah kemampuan investasi tersebut dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak serta memiliki kualitas yang baik bagi masyarakat.
Dengan terbukanya kesempatan kerja yang luas dan berkualitas, arus modal yang masuk dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat serta menggerakkan roda perekonomian riil secara berkesinambungan.
Penyaluran Kredit UMKM dan Kawasan Energi Terbarukan
Selain persoalan penanaman modal, Indef turut menyoroti sektor keuangan dan perbankan. Saat ini, pertumbuhan kredit perbankan telah mencapai sekitar 13,58 persen. Akan tetapi, pertumbuhan kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat baru mencapai sekitar 1,1 persen.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Menurut Indef, capaian pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan perlu dibarengi dengan penyaluran yang lebih merata. Rendahnya pertumbuhan kredit UMKM menunjukkan masih terbukanya ruang yang besar untuk memperluas akses pembiayaan kepada para pelaku usaha di sektor tersebut guna menopang aktivitas usaha mereka.
Di samping dorongan pembiayaan, Indef mengusulkan langkah strategis di bidang energi dengan mengembangkan zona energi terbarukan (renewable energy zone) yang terintegrasi secara langsung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Integrasi ini bertujuan mempertemukan tingginya kebutuhan energi dari sektor industri dengan pasokan energi bersih yang tersedia, sekaligus mendorong akselerasi dan pengembangan sektor manufaktur nasional.






