Pemerintah Malaysia kembali memperluas alokasi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi demi meredakan beban pengeluaran masyarakat di tengah gejolak harga minyak mentah global. Kebijakan anyar ini mulai diberlakukan secara efektif per 1 September.
Langkah ini menandai pembalikan kebijakan dari pengetatan sebelumnya. Pada 26 Maret lalu, Malaysia sempat memangkas kuota bulanan dari 300 liter menjadi 200 liter per individu per 1 April 2026 menyusul eskalasi konflik di Asia Barat. Kini, lewat Program Budi MADANI RON95 (BUDI95), jatah BBM bersubsidi tersebut resmi dinaikkan kembali menjadi 300 liter per bulan untuk setiap penerima yang memenuhi kriteria.
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim mengumumkan penyesuaian ini dalam pidato Hari Kebangsaan di Putrajaya International Convention Centre (PICC), Minggu (30/8/2026). Anwar menyebut keputusan tersebut akan menjangkau lebih dari 16 juta pengguna RON95 bersubsidi di seluruh negeri.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Selain menyasar pengguna bensin, skema bantuan bahan bakar ini turut mencakup pemilik kendaraan niaga dan pribadi berbahan bakar solar. Lebih dari setengah juta pemilik kendaraan pikap dan jip diesel yang memenuhi syarat berhak menerima alokasi Budi Diesel hingga 400 liter setiap bulannya. Di saat yang sama, harga jual eceran BBM jenis RON95 bersubsidi tetap dipatok di angka RM1,99 per liter.
Anwar menegaskan pemerintah memilih mengambil langkah cepat tanpa menunggu pembacaan Anggaran 2027 pada Oktober mendatang. Menurutnya, tekanan biaya hidup warga serta kebutuhan operasional dunia usaha membutuhkan respons langsung yang tidak bisa ditunda.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Berdasarkan keterangan Kementerian Keuangan Malaysia, pos subsidi bensin dan solar merupakan instrumen bantuan luas yang menyerap anggaran negara hingga RM40 miliar. Belanja subsidi tersebut dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kelompok rentan hingga kategori rumah tangga kelas menengah (M40) dan berpendapatan tinggi (T20).






