Minyak kayu putih merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang diproduksi di Indonesia. Komoditas hasil hutan bukan kayu ini memegang peranan sebagai bahan baku penting bagi berbagai sektor industri di Tanah Air. Beberapa sektor yang sangat bergantung pada pasokan komoditas ini meliputi industri farmasi, industri kesehatan, hingga industri pembuatan produk perawatan rumah tangga. Ketersediaan pasokan yang stabil sangat dibutuhkan agar proses produksi pada industri farmasi, kesehatan, dan produk perawatan rumah tangga dapat berjalan dengan baik. Namun, berdasarkan catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor komoditas ini sedang menghadapi tantangan seiring dengan adanya tren penurunan volume produksi di Indonesia.
Berdasarkan data resmi yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS), produksi minyak kayu putih di Indonesia terus menunjukkan tren penurunan dari periode ke periode. Sebelum memasuki tahun 2022, produksi minyak kayu putih nasional tercatat berada di angka 67/52 ton. Angka produksi komoditas hasil hutan bukan kayu tersebut kemudian mengalami penurunan pada tahun 2022. Pada periode tahun 2022 tersebut, total produksi minyak kayu putih Indonesia merosot menjadi 64.133,04 ton. Penurunan volume produksi dari angka sebelumnya menjadi 64.133,04 ton ini menjadi catatan penting bagi ketersediaan bahan baku untuk industri farmasi, kesehatan, dan produk perawatan rumah tangga di Indonesia.
Tren penurunan produksi minyak kayu putih di Indonesia ternyata berlanjut dan makin merosot pada tahun berikutnya. Pada tahun 2023, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa volume produksi minyak kayu putih nasional semakin turun tajam dengan produksi hanya mencapai 41.990,93 ton. Penurunan produksi yang sangat drastis menjadi 41.990,93 ton pada tahun 2023 ini mempertegas adanya tren penyusutan produksi minyak kayu putih Indonesia. Kondisi penurunan volume produksi dari tahun 2022 ke tahun 2023 ini memengaruhi ketersediaan bahan baku penting bagi industri farmasi, industri kesehatan, hingga produk perawatan rumah tangga yang sangat bergantung pada komoditas hasil hutan bukan kayu tersebut.
Laba Usaha InJourney Naik 10%, Ini Pesan BP BUMN

Terdapat beberapa faktor utama yang diidentifikasi menjadi pemicu merosotnya hasil produksi minyak kayu putih di Indonesia. Berdasarkan analisis dari pakar komoditas, faktor pertama yang memengaruhi penurunan ini adalah perubahan cuaca. Perubahan cuaca tersebut tidak hanya mengganggu proses produksi komoditas hasil hutan bukan kayu ini, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas minyak kayu putih yang dihasilkan. Selain kendala perubahan cuaca yang mengganggu proses produksi maupun kualitas minyak, masalah teknologi juga menjadi hambatan bagi para produsen. Kurangnya teknologi penyulingan membuat produksi minyak kayu putih tidak maksimal, sehingga volume yang dihasilkan terus mengalami tren penurunan.
Kondisi tren penurunan produksi minyak kayu putih Indonesia yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini menjadi perhatian dan diulas secara mendalam dalam sebuah program televisi. Fenomena anjloknya produksi komoditas hasil hutan bukan kayu ini dibahas melalui program Squawk Box yang disiarkan oleh saluran CNBC Indonesia. Ulasan mengenai analisa penyebab turunnya produksi minyak kayu putih RI tersebut dipandu secara langsung oleh Andi Shalini. Dalam ulasan tersebut, Andi Shalini berdiskusi bersama Emmanuela Bungasmara Ega Tirta, yang bertindak sebagai Commodity Expert CNBC Indonesia.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Segmen analisa mengenai penyebab turunnya produksi minyak kayu putih RI bersama Commodity Expert CNBC Indonesia, Emmanuela Bungasmara Ega Tirta, dalam program Squawk Box tersebut ditayangkan pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Melalui ulasan Andi Shalini dan Emmanuela Bungasmara Ega Tirta di CNBC Indonesia, ditekankan kembali bahwa kurangnya teknologi penyulingan serta perubahan cuaca menjadi faktor utama yang membuat produksi tidak maksimal. Mengingat minyak kayu putih adalah bahan baku penting bagi industri farmasi, kesehatan, hingga produk perawatan rumah tangga, pemantauan terhadap data produksi di Indonesia tetap menjadi hal yang esensial di tengah tren penurunan ini.






