WASHINGTON — Tekanan biaya energi di Amerika Serikat mencapai titik rekor baru setelah harga bahan bakar diesel atau solar melesat melampaui angka US$6 per galon untuk pertama kalinya dalam sejarah pada perdagangan Jumat. Lonjakan ini kian membebani aktivitas rantai pasok dan sektor pertanian di seluruh wilayah Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data dari AAA, pengemudi truk komersial serta kalangan petani di Amerika Serikat kini terpaksa mengeluarkan biaya sekitar 63 persen lebih mahal untuk mengisi bahan bakar traktor dan kendaraan operasional mereka jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut menempatkan rata-rata harga diesel nasional di posisi US$6,05 per galon. Di wilayah sentra produksi pertanian utama seperti California, beban biaya bahkan melonjak lebih ekstrem hingga menyentuh US$7,98 per galon.
Rekor Baru Bensin dan Minyak Mentah
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada solar. Di segmen bahan bakar konsumen, harga bensin reguler turut mencetak rekor tertinggi sepanjang masa untuk periode libur Labor Day dengan menyentuh level US$4,15 per galon pada awal pekan.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Secara kumulatif, lonjakan harga BBM ini membuat konsumen dan pelaku usaha di AS diperkirakan merogoh kocek tambahan sekitar US$700 juta per hari untuk membeli bensin dan solar dibandingkan pengeluaran pada tahun lalu.
Eskalasi harga di tingkat hilir didorong oleh pergerakan pasar hulu. Kontrak berjangka minyak mentah AS resmi menembus ambang US$100 per barel pada hari Kamis, menandai level tertinggi sejak Mei setelah membukukan kenaikan sekitar 20 persen sepanjang bulan September.
Pasokan Global dan Kilang Tertekan Krisis
Krisis bahan bakar ini dipicu oleh gangguan produksi serta jalur logistik internasional di tengah eskalasi konflik geopolitik. Serangan Ukraina terhadap sejumlah fasilitas kilang di Rusia membuat Moskow mengeluarkan kebijakan larangan ekspor bahan bakar diesel ke pasar dunia.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Pada saat bersamaan, ketegangan di Timur Tengah kian membatasi pasokan. Serangan terhadap kilang mitra AS oleh pihak Iran dan militan Houthi di Yaman, ditambah insiden pencegatan kapal tanker di perairan Selat Hormuz, menghambat jalur distribusi bahan bakar keluar kawasan Teluk.
Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons, menyampaikan bahwa rentetan konflik militer di Eropa Timur dan Timur Tengah telah melumpuhkan kapasitas penyulingan minyak global hingga sekitar 5 juta barel per hari.
Analis Andy Lipow menambahkan bahwa pasar internasional kini telah kehilangan hampir 8 persen dari total pasokan solar dunia di tengah ketiadaan kapasitas penyulingan cadangan yang memadai. Menurutnya, kilang-kilang di Amerika Serikat sudah dipacu hingga tingkat utilisasi 98 persen sehingga tidak lagi menyisakan kapasitas cadangan untuk menutupi defisit pasokan di pasar domestik.






