Arah kebijakan Washington terhadap Teheran mengalami pergeseran tajam di tengah eskalasi militer di perairan Selat Hormuz. Bila sebelumnya Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengarahkan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran kembali berunding, Presiden Donald Trump kini menunjukkan sikap yang jauh lebih keras dengan mengesampingkan jalur diplomasi.
Trump menegaskan tidak lagi memprioritaskan kesepakatan tertulis dengan Teheran. Ia menilai posisi Amerika Serikat saat ini berada di atas angin berkat kendali hampir penuh di kawasan Selat Hormuz serta tekanan berat yang membuat perekonomian Iran kian terpuruk.
Ketegangan langsung berdampak pada aksi militer terbuka. Pasukan AS melancarkan rentetan serangan terhadap sasaran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, mengonfirmasi terjadinya ledakan besar di sejumlah wilayah pesisir strategis, termasuk Bandar Abbas, Sirik, Jask, hingga Qeshm.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Gesekan di lapangan memicu saling klaim korban. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan Ahmad Nafisi menuduh serangan militer AS menghantam acara pesta pernikahan di desa Kuhestak, menewaskan lima orang termasuk seorang anak dan mencederai 68 orang. Tuduhan tersebut langsung disanggah oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang menyatakan militer AS tidak pernah menargetkan fasilitas maupun populasi warga sipil.
Di saat yang sama, aksi balasan mulai melebar ke negara sekitar. Teheran menembakkan sejumlah rudal balistik ke pangkalan militer AS di pesisir Teluk Aqaba, Yordania. Dari total serangan, 10 rudal berhasil dicegat dan tiga sisanya jatuh di area kosong. Otoritas Uni Emirat Arab (UEA) juga melaporkan telah mencegat dan menembak jatuh drone yang dikirim dari wilayah Iran.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Konfrontasi bersenjata ini langsung mengguncang stabilitas pasar energi dunia. Harga minyak mentah dunia tercatat terkerek naik 7 persen hanya dalam kurun waktu sepekan. Di pasar domestik AS, harga rata-rata bensin reguler melonjak ke level US$4,10 per galon, naik signifikan dibandingkan US$3,19 per galon pada periode yang sama tahun lalu.
Merespons situasi keamanan yang semakin rawan di kawasan, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan perjalanan resmi di seluruh wilayah Timur Tengah serta menginstruksikan seluruh fasilitas kedutaan dan warganya untuk meningkatkan kewaspadaan.






