Penerapan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi ekonomi oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 menjadi titik awal pergeseran struktur ekonomi masyarakat di Nusantara. Di balik transformasi pasar tersebut, lahir pula akar sejarah dari mitos pesugihan tuyul yang hingga kini kerap dikaitkan dengan hilangnya uang tunai di pemukiman warga, namun tidak pernah menyentuh brankas perbankan modern.
Dalam kajian folklor, Suwardi Endraswara melalui bukunya Dunia Hantu Orang Jawa (2004) mencatat bahwa tuyul secara tradisional digambarkan sebagai sosok anak kecil berkepala plontos dengan cawat yang menyusup ke rumah-rumah warga. Aktivitasnya dipercaya tidak hanya mengambil uang tunai, tetapi juga barang dan dokumen berharga milik masyarakat.
Asal-Usul Mitos dari Perubahan Ekonomi Kolonial 1870
Perubahan sistem ekonomi pada tahun 1870 menggantikan skema tanam paksa (cultuurstelsel) yang sebelumnya diberlakukan Belanda. Menurut Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), rezim baru ini memicu pengambilalihan kebun-kebun rakyat secara masif untuk dialihkan menjadi perkebunan skala besar dan pabrik gula.
Dampaknya, para petani kecil kian terpinggirkan dan kehilangan kendali atas lahan perkebunan mereka. Pada saat yang bersamaan, kelompok pedagang鈥攂aik dari kalangan pribumi maupun etnis Tionghoa鈥攎eraih keuntungan besar dari skema perdagangan terbuka tersebut. Munculnya kelompok orang kaya baru ini menimbulkan keheranan di kalangan petani pedesaan yang belum mengenal mekanisme pasar modal dan perdagangan modern.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Benturan Logika Petani Subsisten dan Akumulasi Kekayaan Pedagang
Sejarawan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2019) memaparkan bahwa masyarakat petani tradisional beroperasi dalam sistem subsisten, yaitu bekerja sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam pandangan agraris ini, penumpukan kekayaan dianggap sebagai proses yang harus terlihat secara fisik dan melalui kerja keras di ladang secara kasat mata.
Sebaliknya, perputaran uang dan laba yang diperoleh para pedagang terjadi di luar penglihatan fisik masyarakat desa. Karena tidak melihat proses kerja keras yang nyata di ladang, masyarakat memandang kekayaan para pedagang sebagai hasil yang tidak wajar. Kecemburuan sosial dan keterbatasan literasi finansial saat itu mendorong timbulnya tuduhan mistis, yakni kerja sama antara pemilik modal dengan makhluk supranatural seperti tuyul.
Dalam karya lainnya, Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002), Ong Hok Ham menegaskan bahwa prasangka tersebut membuat posisi sosial pedagang kerap dipandang rendah. Setiap kali seorang pedagang berhasil membeli aset seperti rumah atau tanah, masyarakat sekitar kerap melabeli mereka memelihara makhluk halus.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Mengapa Lembaga Keuangan Tidak Mengenal Kehilangan Mistis?
Konteks sosio-historis tersebut memperlihatkan bahwa narasi tuyul sejatinya adalah respons psikologis masyarakat pedesaan abad ke-19 dalam menjelaskan disparitas ekonomi dan mekanisme penumpukan modal yang tidak mereka pahami.
Ketika sistem perbankan dan lembaga keuangan modern berkembang, pengamanan aset beralih sepenuhnya ke pencatatan akuntansi ganda (double-entry bookkeeping), pengawasan fisik berkala, serta sistem audit terintegrasi. Kehilangan dana dalam ekosistem finansial formal selalu dapat dilacak melalui selisih pencatatan atau kegagalan prosedur administratif, bukan akibat fenomena supranatural yang selama ini hidup dalam mitologi masyarakat agraris.






