Kondisi keuangan pemerintah Amerika Serikat kini tengah menjadi sorotan global seiring dengan lonjakan jumlah kewajiban yang harus dibayarkan. Kabar terbaru menunjukkan bahwa beban finansial negara adidaya tersebut semakin berat. Utang pemerintah AS kini hampir menyentuh angka US$ 40 triliun atau setara dengan Rp 714.680 triliun. Angka akumulasi utang yang menembus kisaran Rp 714 kuadriliun ini dihitung menggunakan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp 17.867 per dolar AS.
Laporan resmi dari Congressional Budget Office (CBO) memberikan rincian mendalam mengenai beban pembayaran bunga tersebut. Di bawah kepemimpinan Direktur Phil Swagel, CBO mencatat bahwa pembayaran bunga bersih atas utang publik Amerika Serikat mencapai US$ 963 miliar atau sekitar Rp 17.205,92 triliun sepanjang periode Oktober 2025 hingga Juli 2026. Jika dirinci lebih lanjut berdasarkan data tersebut, pemerintah AS harus mengeluarkan dana sekitar US$ 96,3 miliar atau setara Rp 1.720,59 triliun setiap bulannya. Hal ini berarti beban harian untuk membayar bunga utang berkisar pada angka US$ 3,18 miliar atau sekitar Rp 56,81 triliun.
MSIG Life Buka Suara Soal Penurunan Nilai Aset Rp768 Miliar

Secara keseluruhan, beban pembayaran bunga utang ini mengalami peningkatan sekitar 14% atau sebesar US$ 117 miliar (setara Rp 2.090,43 triliun) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun fiskal sebelumnya. Menurut analisis CBO, lonjakan ini dipicu oleh tingkat suku bunga jangka panjang yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sepuluh bulan pertama pada tahun fiskal 2025. Di sisi lain, terdapat faktor penyeimbang berupa penurunan suku bunga jangka pendek yang sebagian mampu meredam kenaikan total pembayaran bunga secara keseluruhan.
Selain beban bunga, postur anggaran AS juga menunjukkan defisit yang semakin melebar. Sepanjang sepuluh bulan pertama tahun fiskal 2026, defisit anggaran belanja negara tersebut telah menyentuh angka US$ 1,8 triliun atau sekitar Rp 32.160,6 triliun. Jumlah defisit ini meningkat sebesar US$ 169 miliar atau sekitar Rp 3.019 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun fiskal sebelumnya. Kondisi ini mendorong CBO untuk merevisi proyeksi defisit tahun fiskal 2026 secara keseluruhan menjadi US$ 2,1 triliun atau setara Rp 37.520 triliun, naik US$ 200 miliar (sekitar Rp 3.573,4 triliun) dari perkiraan awal yang dirilis pada Februari 2026. Perkembangan data anggaran ini menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump sedang melangkah ke arah yang salah dalam hal tanggung jawab fiskal.
Bantu Pemda, Purbaya Siapkan Skema BPD Financing

Di tengah situasi ini, kekhawatiran pasar pun mulai bermunculan terkait keberlanjutan fiskal AS. Berdasarkan data dari Federal Reserve Bank of St. Louis, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat saat ini telah mencapai level 122%. Meskipun surat utang pemerintah AS atau Treasury tetap dipandang sebagai salah satu kelas aset paling aman di dunia dan menjadi fondasi utama pasar keuangan global, risiko masa depan tetap membayangi. Para pelaku pasar khawatir jika nantinya pemberi pinjaman akan meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah AS, yang pada akhirnya berpotensi mendorong biaya bunga utang menjadi jauh lebih tinggi lagi.






