Departemen Keuangan Amerika Serikat secara resmi merilis data terbaru mengenai kondisi keuangan negara yang menunjukkan lonjakan luar biasa. Utang Pemerintah AS Tembus Rp 712.000 Triliun! untuk pertama kalinya dalam sejarah. Angka fantastis ini setara dengan akumulasi utang yang melebihi 40 triliun dolar AS, jika dihitung menggunakan nilai tukar rupiah yang berada di posisi Rp 17.800 per dolar AS. Perkembangan ini menjadi sorotan utama para pelaku ekonomi global mengingat posisi Amerika Serikat sebagai salah satu motor penggerak aktivitas finansial dunia.
Berdasarkan laporan resmi yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS, total utang publik yang masih belum terbayar telah mencapai posisi 40,047 triliun dolar AS pada hari Selasa. Dokumen keuangan tersebut membagi utang menjadi dua kategori utama. Kategori pertama adalah surat utang Treasury yang dipegang oleh publik dengan nilai mencapai 32,266 triliun dolar AS. Kategori kedua adalah utang antarinstansi pemerintah yang tercatat sebesar 7,782 triliun dolar AS.
Pengembang Properti Bangkrut, Karyawan di PHK-Ratusan Proyek Terancam

Akumulasi utang yang begitu masif ini menunjukkan pola pertumbuhan yang sangat eksponensial dalam beberapa dekade terakhir. Sebagai catatan sejarah, Amerika Serikat baru pertama kali menyentuh level utang sebesar 1 triliun dolar AS pada tahun 1981. Namun, situasi berubah drastis setelah itu. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh tahun terakhir, total utang negara tersebut telah meningkat hingga empat kali lipat, menggambarkan betapa cepatnya penarikan pinjaman baru yang dilakukan oleh otoritas setempat.
Kecepatan penambahan utang ini terlihat semakin agresif dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun terakhir. Ketika Presiden Donald Trump pertama kali dilantik pada Januari 2017, utang pemerintah AS tercatat berada pada angka 19,95 triliun dolar AS. Ini berarti jumlah utang tersebut telah membengkak lebih dari dua kali lipat dalam waktu kurang dari satu dekade. Faktor pemicu utama dari lonjakan dramatis ini salah satunya berasal dari masa pandemi. Sekitar sepertiga dari total kenaikan utang terjadi selama periode dua tahun ketika pemerintah AS melakukan penarikan pinjaman besar-besaran guna membiayai program penanggulangan dampak pandemi COVID-19, yang berlangsung di bawah kepemimpinan Donald Trump dan mantan Presiden Joe Biden.
Kabar Buruk untuk Dunia! Terusan Panama Macet, Dampaknya Tak Main-Main

Laju penumpukan utang yang sangat cepat ini memicu kekhawatiran dari berbagai lembaga pengawas keuangan. Maya MacGuineas, selaku Presiden dari Committee for a Responsible Federal Budget鈥攕ebuah organisasi nonpartisan yang secara khusus mengamati perkembangan kebijakan fiskal鈥攎enyatakan bahwa pencapaian angka utang 40 triliun dolar AS ini terjadi sangat cepat. Batas baru tersebut ditembus dalam waktu kurang dari lima bulan setelah total utang AS menyentuh angka 39 triliun dolar AS. Kendati demikian, Donald Trump sempat merespons kekhawatiran publik saat berada di Gedung Putih dengan menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir terhadap potensi volatilitas yang mungkin terjadi di pasar obligasi.






