Krisis keuangan serius menimpa pengembang properti besar asal Western Sydney, Bathla Group, setelah perusahaan resmi masuk ke dalam proses administrasi sukarela (voluntary administration). Memburuknya kondisi likuiditas ini memicu pemutusan hubungan kerja massal dan menempatkan ratusan proyek perumahan dalam ketidakpastian.
Sejak firma penasihat keuangan Teneo mengambil alih pengelolaan operasional perusahaan, kapasitas bisnis Bathla terus menyusut. Lebih dari 60 persen dari sekitar 350 karyawan yang tercatat kini telah dirumahkan. Dari portofolio yang sebelumnya mencakup lebih dari 200 lokasi proyek dan ratusan entitas usaha, saat ini hanya sekitar 14 proyek yang masih aktif berjalan di lapangan.
Keterbatasan Dana Operasional dan Langkah Kreditur
Operasional Bathla saat ini bergantung pada suntikan modal darurat yang sangat terbatas. Dari total sekitar 40 kreditur, hanya lima kreditur yang bersedia menyalurkan dana talangan antara 3 juta hingga 5 juta dolar Australia (sekitar Rp37,8 miliar hingga Rp63,1 miliar). Dana tersebut hanya cukup untuk menopang sebagian kecil operasional selama dua pekan ke depan.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Suntikan tersebut jauh di bawah estimasi awal administrator, yang memperhitungkan kebutuhan dana sekitar 20 juta dolar Australia (sekitar Rp252,1 miliar) untuk mempertahankan aktivitas konstruksi selama lima pekan.
Sebagian besar kreditur memilih mengamankan aset masing-masing melalui penunjukan kurator atau receiver. 360 Capital Mortgage REIT, misalnya, tengah berupaya memulihkan tagihan senilai 31,7 juta dolar Australia dari empat fasilitas pinjaman. Receiver telah ditunjuk untuk tiga pinjaman, sementara satu pinjaman lainnya sedang dalam proses, termasuk agunan atas 72 unit apartemen yang pengerjaannya hampir rampung. Langkah serupa diambil oleh kreditur lain seperti Ray White Capital, Balmain, Woodbridge Capital, serta Leda milik investor miliarder Bob Ell yang mulai mengambil alih kendali sejumlah proyek spesifik.
Rencana Penyelamatan Batal dan Sikap Pemerintah
Harapan restrukturisasi utang skala besar sempat muncul melalui proposal pembiayaan kembali (refinancing) atas 25 bidang lahan milik Bathla yang belum dikembangkan dengan valuasi mencapai 1 miliar dolar Australia. Rencana tersebut dikoordinasikan oleh Renown Wealth atas nama sindikasi investor yang didukung pemodal Jepang melalui Buildwell Australia Pty Ltd.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Namun, proposal pendanaan tersebut resmi ditarik pada hari Jumat. Pembatalan terjadi akibat kegagalan para pihak dalam menyepakati sejumlah klausul utama, ditambah adanya kekhawatiran terkait rencana keterlibatan berkelanjutan dari pendiri Bathla, Bhart Bhushan.
Menanggapi krisis yang menimpa jaringan pengembang ini, Bendahara New South Wales Daniel Mookhey menyatakan bahwa prioritas otoritas adalah melindungi kepentingan pembeli properti dan memfasilitasi penyelesaian unit hunian yang sedang dibangun jika memungkinkan. Pemerintah memastikan tidak akan menggunakan dana pembayar pajak untuk memberikan dana talangan (bailout) kepada kreditur swasta.






