Pelaku usaha di Indonesia dihadapkan pada tantangan operasional yang kian kompleks menyusul tingginya potensi bencana geologis dan hidrometeorologi. Ancaman gempa bumi dan erupsi gunung berapi kini beriringan dengan dampak perubahan iklim seperti kekeringan berkepanjangan, banjir, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, menyampaikan dalam program Squawk Box CNBC Indonesia bahwa risiko bencana alam serta pergeseran iklim tersebut memberikan efek berantai ke sejumlah pilar ekonomi penting. Sektor-sektor yang rentan terpapar meliputi perbankan, infrastruktur, energi, hingga agrikultur.
Laba Usaha InJourney Naik 10%, Ini Pesan BP BUMN

Dampak Terhadap Produksi dan Rantai Pasok
Pada sektor agrikultur dan perkebunan, gangguan cuaca ekstrem dan erupsi gunung berapi dapat secara langsung menghambat produktivitas panen serta merusak lahan garapan. Ketika hasil bumi terganggu, stabilitas pasokan komoditas pangan dan bahan mentah industri ikut tertekan.
Kerentanan tidak berhenti di sektor hulu. Industri dengan rantai pasok panjang seperti manufaktur dan barang konsumen cepat saji (fast-moving consumer goods/FMCG) menghadapi risiko disrupsi logistik. Terputusnya jalur distribusi atau kerusakan fasilitas produksi akibat gempa dan karhutla berpotensi menghentikan operasional pabrik dan menaikkan beban operasional secara signifikan.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Kondisi ini menuntut kalangan dunia usaha untuk memperkuat mitigasi risiko serta ketahanan operasional agar roda bisnis tetap berlanjut di tengah ketidakpastian bencana alam.






