JAKARTA — Kenaikan biaya bahan bakar mulai memberi tekanan nyata pada rantai pasok industri es krim nasional. Beban pengiriman barang menuju berbagai wilayah di luar pulau Jawa tercatat merangkak naik seiring dengan penyesuaian biaya operasional transportasi, di tengah upaya pelaku usaha mempertahankan laju penjualan.
Direktur PT Campina Ice Cream Industry, Tbk (CAMP), Adji Andjono, mengungkapkan dinamika tersebut dalam program Closing Bell CNBC Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia yang menyumbang 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga kuartal II-2026 memang menjaga stabilitas sektor makanan dan minuman secara umum. Namun, kondisi berbeda dialami oleh segmen es krim.
Bisnis di sektor ini masih menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan, baik dari segi nilai maupun volume penjualan. Sifat produk es krim yang bukan merupakan kebutuhan pokok membuat elastisitas permintaannya sangat bergantung pada daya beli non-primer konsumen serta momen-momen tertentu.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Tekanan Logistik dan Bahan Baku Impor
Selain peningkatan tarif pengangkutan lintas pulau akibat kenaikan bahan bakar minyak, tantangan struktural lain datang dari sisi hulu. Industri es krim dalam negeri masih memiliki ketergantungan yang signifikan terhadap pasokan bahan baku impor.
Kondisi ini menempatkan margin usaha dalam posisi rentan ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap mata uang asing. Kombinasi kenaikan ongkos angkut ke daerah luar Jawa dan biaya pengadaan bahan baku impor memicu peningkatan beban pokok yang harus dikelola secara ketat oleh produsen.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Pola Penjualan Ritel dan Siklus Musiman
Untuk menjaga serapan pasar, produsen mengandalkan jalur distribusi ritel secara masif, mulai dari jaringan minimarket modern hingga toko kelontong tradisional. Strategi penjualan pada masing-masing kanal disesuaikan dengan segmentasi dan profil konsumen setempat guna memaksimalkan perputaran stok freezer.
Di tengah tekanan ekonomi dan biaya logistik, pelaku industri es krim menaruh harapan besar pada lonjakan volume musiman. Penjualan umumnya mengalami peningkatan signifikan pada periode libur anak sekolah, perayaan Idulfitri, serta momentum libur Natal dan Tahun Baru, yang secara historis menjadi pendorong utama permintaan.






