Rangkaian bencana alam yang melanda berbagai wilayah Indonesia menuntut pembenahan mendasar dalam sistem mitigasi nasional. Merespons kerentanan geografis dan tingginya intensitas bencana belakangan ini, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya mewujudkan kesiapsiagaan nasional melalui sistem pendidikan dan infrastruktur yang adaptif, serta penguatan literasi kebencanaan bagi masyarakat luas.
Seruan ini dilatarbelakangi oleh serangkaian peristiwa bencana signifikan yang membawa dampak sosial dan ekonomi besar. Pada akhir tahun lalu, bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merenggut 1.167 korban jiwa, menyebabkan ratusan orang hilang, serta memaksa ratusan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Di kawasan timur, gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakibatkan 103 orang meninggal dunia, 986 orang luka-luka, dan menyebabkan 185.000 warga bertahan di tempat pengungsian. Untuk meringankan beban para penyintas gempa di NTT, pemerintah menyalurkan bantuan perbaikan rumah dengan nilai berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 30 juta.
Selain bencana geologi dan hidrometeorologi basah, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatera turut memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 25 persen hingga 30 persen di kalangan masyarakat dan anak-anak sekolah.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Tingginya Kerentanan Seismik dan Risiko Bencana Nasional
Kondisi tektonik Indonesia menempatkan kawasan ini pada tingkat bahaya yang sangat tinggi. Posisi kepulauan nusantara dipengaruhi oleh pergerakan empat lempeng utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa aktivitas kegempaan di tanah air didominasi oleh dua pemicu utama, yakni subduksi lempeng (megathrust) dan sesar aktif. Dalam kurun waktu Februari 2025 hingga Desember 2025 saja, BMKG mendata sebanyak 43.000 peristiwa gempa bumi di seluruh Indonesia.
Frekuensi kegempaan berlanjut hingga pertengahan tahun ini. Sepanjang Agustus 2026, tercatat sedikitnya 11 kejadian gempa dengan magnitudo di atas 5,7 Skala Richter yang tersebar mulai dari Sumatera, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Maluku Utara, hingga Nusa Tenggara Timur.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Secara keseluruhan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.587 kejadian bencana terjadi sejak awal 2026 hingga 25 Agustus 2026. Dari total angka tersebut, bencana hidrometeorologi masih mendominasi catatan kebencanaan nasional, di samping 14 peristiwa bencana geologi. Akumulasi ancaman ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-3 dari 193 negara paling rawan bencana di dunia.
Melihat profil risiko yang sedemikian masif, integrasi literasi kebencanaan ke dalam kurikulum pendidikan formal serta penerapan standar ketahanan bencana pada infrastruktur publik menjadi langkah krusial agar masyarakat memiliki kesiapan adaptif saat menghadapi ancaman bencana di masa depan.






