Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan sekitar dua juta orang yang belum memiliki rekening perbankan dapat mulai membuka rekening tabungan setiap tahun. Sasaran tersebut dicanangkan sebagai bagian dari langkah berkesinambungan untuk memperluas akses layanan perbankan dan mendorong tingkat inklusi keuangan masyarakat di Indonesia.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution menyampaikan bahwa saat ini masih tercatat sekitar 15 juta orang yang belum memiliki rekening bank. Melalui penetapan target tahunan tersebut, LPS berharap jumlah masyarakat yang belum memiliki rekening tabungan dapat berkurang secara bertahap dari 15 juta menjadi sekitar 13 juta orang pada tahun depan.
Upaya penambahan kepemilikan rekening perbankan ini dinilai penting guna memperkuat capaian inklusi keuangan yang saat ini telah berada di angka 93 persen. Akses perbankan yang merata diharapkan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum memanfaatkan produk simpanan formal.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Penertiban Rekening Pasif dan Edukasi Finansial
Selain mendorong pembukaan rekening baru, LPS memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan rekening tabungan yang berstatus tidak aktif atau pasif. Pengelolaan terhadap rekening-rekening yang tidak digunakan dinilai sangat mendesak demi mencegah potensi penyalahgunaan untuk berbagai kegiatan yang merugikan atau melanggar hukum.
Farid mengingatkan bahwa pihak perbankan tidak memiliki kewenangan untuk menutup rekening nasabah secara sepihak meskipun rekening tersebut sudah tidak lagi dipakai bertransaksi. Oleh karena itu, masyarakat atau nasabah diimbau untuk berinisiatif menutup rekening mereka secara mandiri apabila memang sudah tidak dipergunakan lagi dalam aktivitas keuangan sehari-hari.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Untuk menunjang penguatan inklusi dan pemahaman perbankan secara menyeluruh, LPS berencana memperluas pelaksanaan edukasi keuangan. Program edukasi ini akan dilakukan secara langsung atau tatap muka maupun melalui pemanfaatan berbagai kanal digital, dengan fokus utama menyasar generasi muda agar literasi keuangan dapat tersampaikan dan dipahami secara lebih efektif.






