Sebanyak 24 dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur resmi menetapkan status darurat kekeringan menyusul meluasnya dampak musim kemarau di berbagai wilayah. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengonfirmasi bahwa penetapan status tersebut terbagi ke dalam tingkat tanggap darurat serta siaga darurat.
Enam daerah tercatat telah menaikkan status menjadi tanggap darurat, yaitu Kabupaten Lumajang, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Situbondo, dan Sumenep. Sementara itu, 18 daerah lainnya menetapkan status siaga darurat, meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Bangkalan, Blitar, Trenggalek, Gresik, Jember, Sampang, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Kota Batu, Jombang, Bojonegoro, Pamekasan, dan Probolinggo.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Dari total 24 wilayah terdampak, sebanyak 20 kabupaten telah mulai mendistribusikan bantuan air bersih ke titik-titik krisis. Tiga daerah di Pulau Madura鈥擝angkalan, Sumenep, dan Pamekasan鈥攎enjadi wilayah dengan dampak kekeringan paling parah. BPBD Jawa Timur telah memusatkan penanganan ke wilayah tersebut dengan menyalurkan 5.410 rit pasokan air bersih, sekitar 1.400 tandon penampung, tandon lipat, hingga terpal darurat.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Untuk langkah penanganan tambahan, BPBD Jawa Timur menyiapkan rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Skema ini difungsikan untuk memicu hujan demi mengatasi krisis air sekaligus melakukan pembasahan di area pegunungan yang rawan kebakaran hutan dan lahan. Pelaksanaan modifikasi cuaca tersebut bergantung penuh pada ketersediaan potensi awan hujan dan terus dikoordinasikan bersama BMKG guna memantau arah pergerakan awan serta angin.






