Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas mulai menunjukkan hasil. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi turunnya hujan di tiga provinsi rawan karhutla鈥擱iau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat鈥攕etelah dilaksanakannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa per 26 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, operasi penyemaian awan tersebut dipusatkan di ketiga wilayah tersebut menyusul terdeteksinya bibit awan di lapisan atmosfer.
Hasil Penyemaian Awan di Riau, Sumsel, dan Kalbar
Di Provinsi Riau, operasi modifikasi cuaca berlangsung intensif selama lebih dari tujuh jam penerbangan yang terbagi dalam empat sorti. Sebanyak 4.000 kilogram bahan semai disebarkan untuk memicu presipitasi.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Operasi di Riau tersebut berhasil mendatangkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah kawasan, meliputi Kota Pekanbaru, Kabupaten Pelalawan, Siak, Bengkalis, dan Rokan Hulu.
Sementara itu, penyemaian di Sumatera Selatan dilaksanakan selama lebih dari satu jam melalui satu sorti penerbangan dengan muatan 1.000 kilogram bahan semai. Kegiatan ini memicu turunnya hujan berintensitas ringan di wilayah Palembang.
Untuk wilayah Kalimantan Barat, tim OMC mengudara selama lebih dari empat jam dalam dua sorti penerbangan menggunakan 2.000 kilogram bahan semai. Hasilnya, hujan terpantau mengguyur sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Sambas, Bengkayang, Landak, Kota Pontianak, Kubu Raya, Sanggarau, Sekadau, Sintang, hingga Kapuas Hulu.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Kendala Bibit Awan di Wilayah Lain
Kendati operasi di tiga provinsi tersebut membuahkan hasil, BNPB menyatakan pelaksanaan OMC belum dapat diperluas ke seluruh daerah rawan lainnya. Wilayah seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Jambi belum dapat dilakukan penyemaian awan.
Berton menjelaskan bahwa kendala utama di wilayah-wilayah tersebut adalah belum ditemukannya potensi atau titik-titik bibit awan di atmosfer yang memadai untuk disemai.






