Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat mayoritas produksi gas bumi nasional saat ini dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hingga Juni 2026, porsi pemanfaatan gas domestik telah mencapai 74,55 persen, sementara sisa 25,39 persen dialokasikan untuk pasar ekspor.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) ESDM Laode Sulaeman memaparkan bahwa secara volume, realisasi pemanfaatan gas bumi domestik menembus angka 3.972,26 British Thermal Unit per Day (BBTUD). Pada periode yang sama, volume penyaluran gas untuk ekspor tercatat sebesar 1.352,90 BBTUD.
Sektor industri manufaktur menyerap porsi terbesar dari total pasokan domestik, dengan volume realisasi konsumsi mencapai 1.263,20 BBTUD. Alokasi terbesar berikutnya mengalir untuk kebutuhan gas alam cair (LNG) domestik sebesar 875,81 BBTUD, sektor kelistrikan sebesar 791,87 BBTUD, dan industri pupuk sebesar 707,61 BBTUD. Sementara itu, serapan gas untuk jaringan gas kota (jargas) rumah tangga masih relatif minim di bawah 1 persen.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Realisasi Lifting dan Kendala Operasional Hulu Migas
Di sisi pasokan hulu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan realisasi lifting gas nasional hingga 31 Juli 2026 mencapai 5.208 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Capaian tersebut setara dengan 94,5 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar 5.508 MMSCFD.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa selisih dari target produksi tersebut dipicu oleh sejumlah kendala operasional dan gangguan teknis di lapangan. Gangguan pada pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) akibat pipa bocor menyebabkan penurunan pasokan gas sekitar 200 MMSCFD.
MNK Rokan, Tonggak Baru Pertamina Kembangkan Migas Non Konvensional

Selain gangguan pipa transmisi TGI, kendala produksi juga terjadi di fasilitas BP Berau Ltd. akibat insiden kebakaran pada salah satu rangkaian fasilitas pemrosesan (train) yang hingga kini perbaikannya belum mencapai 100 persen. Kendala operasional lain tercatat di PT Pertamina EP Subang yang sempat mengalami kecelakaan dan gangguan fasilitas sejak Januari, sebelum akhirnya berhasil diselesaikan proses perbaikannya.






