Sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menggelar sidang musyawarah tertutup untuk memilih Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Forum musyawarah ini diselenggarakan di kediaman KH Wahab Hasbullah yang kini menjadi Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Minggu (30/8) malam.
Sidang musyawarah tertutup tersebut diikuti secara langsung oleh sembilan kiai anggota AHWA. Kesembilan tokoh ulama tersebut adalah KH Nurul Huda Dazuli, TGK Nuruzzahri Yahya, KH Baharuddin HS, KH Miftakhul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siroj, dan KH Abun Bunyamin.
Ketua Organizing Committee Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menjelaskan bahwa jalannya sidang AHWA memang sengaja digelar secara tertutup. Format tertutup ini diterapkan untuk menentukan sosok yang akan memimpin jajaran syuriyah sebagai Rais Aam PBNU melalui musyawarah mufakat para kiai sepuh.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Penentuan Rais Aam dan Mekanisme Calon Ketua Umum PBNU
Selain mengemban tugas utama menetapkan Rais Aam PBNU, majelis AHWA memiliki peran penting dalam tahapan penentuan Ketua Umum PBNU berikutnya. Gus Ipul memaparkan bahwa Rais Aam terpilih nantinya akan memberikan persetujuan bersama seluruh anggota AHWA mengenai sosok yang akan menjadi Ketua Umum PBNU.
Pemberian persetujuan tersebut disandarkan pada usulan nama-nama yang diajukan oleh jajaran pengurus wilayah serta pengurus cabang pemilik hak suara. Dari usulan tersebut, sebanyak lima nama calon ketua umum dengan perolehan dukungan terbanyak akan diserahkan secara resmi kepada Rais Aam terpilih.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Setelah daftar lima nama calon ketua umum dengan usulan tertinggi diterima, Rais Aam terpilih akan menggelar musyawarah bersama para anggota AHWA untuk menentukan persetujuan terhadap kandidat nakhoda tanfidziyah PBNU yang akan datang.






