Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan waspada potensi cuaca ekstrem di wilayah Provinsi Aceh untuk periode 2 hingga 4 September 2026. Kondisi cuaca dengan intensitas hujan ringan hingga lebat ini diperkirakan dapat memicu bencana hidrometeorologi, mulai dari genangan air, luapan sungai, hingga tanah longsor yang berisiko mengganggu aktivitas masyarakat.
Prakiraan BMKG menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terkonsentrasi di belasan kabupaten dan kota. Wilayah yang masuk dalam pemetaan tersebut mencakup Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Aceh Utara. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Pidie, Pidie Jaya, Subulussalam, Simeulue, serta Nagan Raya.
Faktor Atmosfer Pemicu Cuaca Ekstrem
Peningkatan intensitas curah hujan di Aceh dipengaruhi oleh pergerakan atmosfer regional. Analisis BMKG mencatat aktivitas gelombang atmosfer ekuatorial Rossby dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif melintasi kawasan Aceh secara spasial.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Selain dinamika gelombang tersebut, terbentuknya zona konvergensi serta belokan angin turut mempercepat pertumbuhan awan konvektif penghasil hujan lebat. Kondisi ini diperkuat oleh suhu muka laut yang relatif hangat di Samudra Hindia bagian barat dan perairan utara Sumatra, yang memicu tingginya laju penguapan uap air ke atmosfer.
Langkah Kesiapsiagaan Pemerintah Aceh
Menanggapi peringatan dini cuaca tersebut, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, melakukan koordinasi bersama Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (2/9). Koordinasi difokuskan pada langkah antisipasi dan kesiapan jajaran di daerah dalam menghadapi dampak curah hujan tinggi.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Sebagai langkah mitigasi awal, Pemerintah Aceh telah menyalurkan bantuan penyangga logistik atau buffer stock penanggulangan bencana tahun anggaran 2026 ke jajaran pemerintah kabupaten dan kota. Pendistribusian bantuan logistik ini disiapkan untuk memperkuat respons cepat penanganan kedaruratan di lapangan jika terjadi banjir maupun tanah longsor.






