Pemerintah pusat melalui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengambil langkah cepat dalam menangani para korban dugaan keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Respons tanggap ini mendapat perhatian positif dari kalangan akademisi yang menilai penanganan medis tingkat lanjut bagi korban menunjukkan keseriusan negara.
Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, menilai kunjungan langsung Wapres ke Karo serta fasilitas rujukan medis hingga ke Jakarta merupakan bentuk eskalasi penanganan yang tepat sasaran. Sejumlah korban yang membutuhkan perawatan intensif kini telah tiba di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Menurut Wahyu, keputusan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan rujukan nasional mencerminkan tanggung jawab nyata pemerintah ketika kondisi korban memerlukan penanganan medis yang lebih komprehensif.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Penanganan Medis Korban Bergejala Berat
Peristiwa dugaan keracunan massal tersebut menimpa 353 pelajar di Kabupaten Karo usai mengonsumsi makanan program MBG di sekolah pada 13 Agustus 2026. Gejala keracunan dilaporkan baru dirasakan para siswa beberapa jam setelah santapan dibagikan.
Di antara ratusan siswa yang terdampak, perhatian medis khusus diberikan kepada dua pelajar bernama Febiona dan Agnesia. Febiona dilaporkan mengalami kejang-kejang dan gangguan ingatan, sedangkan Agnesia menghadapi komplikasi gangguan pada organ ginjal, sehingga memerlukan fasilitas medis rujukan tingkat lanjut di RSCM.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Evaluasi Menyeluruh Rantai Pasok Makanan
Selain mengapresiasi penanganan medis darurat, Wahyu menekankan pentingnya evaluasi total terhadap tata kelola penyediaan makanan dalam program MBG. Pemerintah diminta menelusuri setiap mata rantai guna mencegah insiden serupa terulang.
Evaluasi tersebut mencakup proses pemilihan bahan pangan mentah, metode penyimpanan, prosedur kebersihan dapur saat memasak, hingga jalur distribusi dan durasi waktu pengantaran sebelum makanan dikonsumsi oleh para pelajar di sekolah.






