Kondisi geopolitik global yang terus berubah menuntut kesiapan dari seluruh elemen bangsa Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pada hari Kamis, 30 Juli 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan panduan dan arahan khusus terkait eskalasi konflik internasional. Saat berada di wilayah Batang, Jawa Tengah, Presiden Prabowo menyampaikan pandangannya mengenai situasi terkini, khususnya mengenai potensi perluasan perang di kawasan Timur Tengah. Mantan menteri pertahanan yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menegaskan pentingnya antisipasi dini dari seluruh masyarakat Indonesia. Menurut beliau, krisis dunia yang terjadi saat ini bukanlah krisis yang ringan, melainkan krisis nyata yang sangat berbahaya dan dahsyat bagi banyak negara.
Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, Presiden Prabowo secara terbuka mengimbau seluruh masyarakat Indonesia agar mempersiapkan mental dalam menghadapi dampak dari konflik di Timur Tengah. Berdasarkan evaluasinya, perang tersebut berpotensi berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, areanya akan meluas, serta kondisinya diperkirakan akan bertambah buruk dari waktu ke waktu. Kesiapan mental ini dipandang sangat krusial, dan seluruh elemen bangsa diminta untuk tetap kompak saat menghadapi dampak tidak langsung dari ketidakstabilan global. Kendati situasi geopolitik dunia sedang berada dalam fase yang sulit, Indonesia patut bersyukur karena didukung oleh kepemilikan sumber daya yang sangat besar. Memiliki kekayaan sumber daya ini dinilai memberikan banyak jalan keluar bagi Indonesia untuk tetap bertahan di tengah tekanan eksternal.
Pujian Prabowo ke Pramono Meski Tak Separtai Mengemuka di Peresmian LRT

Sebagai langkah nyata dalam merespons krisis global, pemerintah bertekad untuk bekerja dengan sangat cepat guna memberikan hasil nyata kepada rakyat dan menggerakkan roda ekonomi nasional. Indonesia diharapkan bisa bergerak lebih efektif, efisien, dan teliti dalam mengambil kebijakan strategis. Pernyataan mengenai kesiapan mental dan ketahanan nasional tersebut disampaikan langsung di sela-sela agenda peresmian akad massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Rumah Subsidi serta Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Acara peresmian berskala besar ini diselenggarakan secara langsung di kawasan Puri Delta City Side Batang. Dalam kegiatan tersebut, pemerintah meresmikan penandatanganan akad massal untuk 62.000 unit hunian dengan total nilai pembiayaan mencapai Rp 880 miliar, yang menjadi wujud nyata penguatan ekonomi dari dalam negeri.
Program pembangunan dan pembiayaan perumahan ini dijalankan dengan tujuan utama untuk memperluas akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa memiliki hunian yang layak. Di samping membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat akan tempat tinggal, program KPR Subsidi dan KUR Perumahan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat sistem pembiayaan sektor perumahan nasional. Pemerintah berkomitmen untuk bekerja keras melalui berbagai program dan terus memikirkan cara-cara terbaik guna melipatgandakan jumlah rumah yang dapat dinikmati oleh rakyat. Dengan memperkokoh sektor pembiayaan domestik, pemerintah berupaya membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh terhadap guncangan eksternal yang dipicu oleh berlanjutnya konflik internasional di Timur Tengah.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Dalam kesempatan yang sama di kawasan Puri Delta City Side Batang, Presiden Prabowo juga melakukan interaksi langsung melalui konferensi video dengan sejumlah perwakilan debitur. Para debitur tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia yang sedang mengikuti prosesi akad massal secara serentak. Melalui dialog interaktif ini, Presiden menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya akad massal sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah. Beliau secara tegas menghendaki agar seluruh warga negara Indonesia dapat memiliki hunian yang layak huni. Secara keseluruhan, kombinasi antara kesiapan mental masyarakat, pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah, kekompakan nasional, serta penguatan sektor riil seperti perumahan rakyat diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan bagi perekonomian Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global yang kian meluas.






