Perum Bulog memastikan ketersediaan pasokan beras untuk kebutuhan masyarakat dan korban bencana gempa di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berada dalam kondisi aman. Jaminan ketersediaan komoditas pokok tersebut mencakup kebutuhan logistik saat ini maupun proyeksi penyaluran pada masa mendatang di seluruh daerah terdampak di NTT.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa cadangan beras yang disiapkan pemerintah sangat mencukupi untuk mendukung masa tanggap darurat kebencanaan sekaligus pelaksanaan program penyaluran bantuan pangan reguler di Nusa Tenggara Timur.
Distribusi Stok Gudang Bulog dan Mobilisasi Nasional ke NTT
Kekuatan stok beras di wilayah Nusa Tenggara Timur ditopang oleh integrasi persediaan fisik di fasilitas gudang lokal serta percepatan suplai dari berbagai daerah melalui mekanisme mobilisasi nasional (movnas).
Saat ini, jumlah beras yang tersimpan di seluruh jaringan gudang Bulog di wilayah NTT tercatat mencapai 26.336 ton. Guna memperkokoh ketahanan pangan daerah, Bulog mendatangkan pasokan tambahan melalui mobilisasi nasional sebanyak 67.446 ton beras dari sejumlah wilayah di Indonesia.
Pasokan beras tambahan melalui skema mobilisasi nasional tersebut didatangkan dengan rincian volume dari beberapa daerah pengirim:
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

- Nusa Tenggara Barat (NTB) menyumbang pasokan sebesar 35.250 ton beras.
- Jawa Timur mengirimkan suplai sebanyak 20.646 ton beras.
- Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memasok cadangan sebesar 8.550 ton beras.
- Jakarta mendatangkan pasokan sekitar 3.000 ton beras.
Penggabungan cadangan awal di gudang lokal NTT sebesar 26.336 ton dengan kiriman movnas sebanyak 67.446 ton membuat total stok beras Bulog di Nusa Tenggara Timur diperkirakan mencapai 93.782 ton.
Rincian Alokasi Tanggap Darurat dan Bantuan Pangan di NTT
Berdasarkan perhitungan logistik Bulog, total kebutuhan beras di Nusa Tenggara Timur diproyeksikan berada pada angka 46.368 ton. Volume kebutuhan ini telah mengkalkulasikan kebutuhan penanganan darurat bencana alam dan bantuan sosial pangan.
Untuk alokasi awal bantuan bencana alam tanggap darurat di NTT, Bulog menyiapkan pasokan sebesar 1.890 ton beras. Sebagai langkah mitigasi lanjutan, Bulog juga memperhitungkan antisipasi kemungkinan perpanjangan masa tanggap darurat sebanyak 10 kali yang membutuhkan pasokan mencapai 18.900 ton beras.
Di samping kebutuhan darurat kebencanaan gempa, Bulog mengalokasikan stok untuk pelaksanaan program bantuan pangan Presiden selama jangka waktu tiga bulan. Melalui skema pemberian 10 kilogram beras per bulan bagi 852.631 penerima bantuan di NTT, total kebutuhan beras yang disiapkan mencapai 25.578 ton.
Prabowo Perintahkan Investigasi KM Virgo, Pastikan Hak Keluarga Korban

Proyeksi Ketahanan Cadangan dan Sisa Beras di NTT
Akumulasi dari seluruh alokasi, mulai dari bantuan tanggap darurat awal, cadangan perpanjangan darurat 10 kali, hingga program bantuan pangan Presiden selama tiga bulan, menghasilkan total estimasi kebutuhan sebesar 46.368 ton beras.
Jumlah kebutuhan tersebut tercatat berada jauh di bawah total ketersediaan stok Bulog di wilayah Nusa Tenggara Timur yang mencapai 93.782 ton beras.
Dengan demikian, setelah dikurangi total estimasi kebutuhan sebesar 46.368 ton, sisa stok beras Bulog di NTT diperkirakan masih tersisa sekitar 47.414 ton. Cadangan sisa yang melimpah ini memberikan kepastian bahwa pasokan beras di Nusa Tenggara Timur tetap kuat dan stabil untuk penanganan bencana maupun kebutuhan pangan masyarakat.






