Bencana alam yang merusak infrastruktur dasar merupakan risiko nyata yang harus diantisipasi oleh semua orang, terutama bagi para pelaku ekonomi digital yang sangat bergantung pada pasokan listrik dan konektivitas. Peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang melanda Jepang dapat menjadi studi kasus yang sangat penting mengenai manajemen krisis. Gempa tersebut menewaskan sedikitnya 25 orang serta merusak infrastruktur kelistrikan dan berbagai layanan dasar secara masif. Situasi pemulihan pascabencana ini menjadi semakin berat karena terjadi di tengah cuaca panas ekstrem dengan suhu mencapai 35 derajat Celsius. Dengan puluhan ribu rumah tangga yang terdampak, langkah-langkah bertahan hidup yang diterapkan oleh warga Jepang memberikan panduan praktis tentang cara mengelola energi dan air saat kondisi darurat.








