Industri hiburan rekreasi dan atraksi pengalaman langsung merupakan salah satu sektor ekonomi lokal yang memiliki potensi keuntungan besar. Namun, pengelolaan aspek keselamatan pengunjung tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan oleh para pelaku usaha untuk menjaga kelangsungan bisnis. Kasus meninggalnya seorang pengunjung perempuan berinisial BNW (39) sesaat setelah keluar dari wahana rumah hantu di Apollo Supermall Tulungagung, Jawa Timur, menjadi evaluasi penting bagi para operator bisnis serupa. Peristiwa yang terjadi pada hari Rabu (29/7) sekitar pukul 14.30 WIB ini menunjukkan betapa krusialnya kesiapan sistem mitigasi risiko di area publik. Korban yang merupakan warga Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, dilaporkan berlari keluar bersama pengunjung lain karena ketakutan. Korban kemudian sempat duduk sesaat di kursi dekat pintu sebelum akhirnya terjatuh dan meninggal dunia. Akibat kejadian ini, wahana tersebut ditutup sementara untuk proses penyelidikan kepolisian.
Bagi pengelola wahana hiburan yang memicu adrenalin, langkah pertama dalam mengelola keselamatan bisnis adalah melakukan edukasi dan peringatan riwayat kesehatan pengunjung secara preventif. Berdasarkan informasi dari pihak keluarga, korban memiliki riwayat penyakit hipertensi. Tekanan darah korban tercatat tinggi saat menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum menunaikan ibadah haji, dan bahkan sempat pingsan beberapa kali saat berada di Tanah Suci. Setelah pulang dari ibadah haji, korban juga kerap mengeluhkan jantung berdebar ketika mendengar suara keras. Memahami profil risiko kesehatan pengunjung seperti ini sangat penting bagi pelaku usaha. Manajemen bisnis wajib menyusun panduan tertulis yang jelas di pintu masuk wahana untuk melarang pengunjung dengan riwayat penyakit tertentu masuk ke dalam area permainan.
Langkah kedua adalah merancang area evakuasi dan pintu keluar yang aman secara fisik guna menekan risiko cedera. Dalam insiden di Tulungagung tersebut, setelah keluar dari wahana, korban yang sempat duduk tiba-tiba terjatuh saat mencoba berdiri. Saat terjatuh, kepala korban diduga membentur kursi. Hasil visum luar mengonfirmasi adanya luka pada pelipis kiri dan gigi patah yang diduga kuat akibat benturan saat insiden tersebut. Pengelola bisnis hiburan harus memastikan bahwa area pintu keluar dan ruang istirahat bebas dari benda keras atau furnitur bersudut tajam yang berpotensi memperparah keadaan jika ada pengunjung yang pingsan atau terjatuh. Desain interior di sekitar area publik sebaiknya menggunakan material yang meminimalkan dampak benturan.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Langkah ketiga adalah mempersiapkan prosedur operasional standar bagi staf untuk memberikan respons cepat dalam situasi darurat medis. Ketika korban BNW terjatuh, petugas yang berada di sekitar lokasi langsung berusaha memberikan pertolongan. Akan tetapi, korban sudah tidak bergerak dan dari proses pemeriksaan medis dipastikan sudah meninggal dunia. Pihak kepolisian tidak menemukan adanya kejanggalan atas kematian korban. Kendati demikian, kesiapan staf dalam menghadapi situasi krisis medis sangat menentukan reputasi bisnis. Operator wahana wajib membekali karyawan dengan pelatihan dasar penanganan darurat dan memastikan adanya jalur komunikasi yang cepat dengan fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah keempat adalah menjaga transparansi dan kerja sama penuh dengan pihak berwenang apabila terjadi insiden fatal di lokasi usaha. Ketika terjadi kecelakaan, langkah penutupan sementara seperti yang diterapkan pada wahana di Apollo Supermall Tulungagung sangat penting untuk memberikan ruang bagi polisi melakukan penyelidikan secara menyeluruh. Keterlibatan pihak kepolisian dari Polsek Tulungagung Kota dan Polres Tulungagung dalam menyelidiki penyebab kematian menunjukkan perlunya manajemen bisnis untuk selalu bersikap kooperatif. Sikap ini tidak hanya membantu mempercepat proses hukum, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab profesional pengelola kepada publik dan pemangku kepentingan.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Secara keseluruhan, menjaga kelangsungan bisnis di sektor hiburan sangat bergantung pada tingkat kepercayaan konsumen terhadap aspek keamanan dan keselamatan. Dengan menerapkan peringatan kesehatan yang ketat, menata tata letak fisik yang aman dari risiko benturan, serta melatih kesiapsiagaan staf operasional, pelaku usaha dapat meminimalkan risiko fatalitas di tempat kerja. Langkah-langkah preventif ini pada akhirnya tidak hanya melindungi keselamatan jiwa para pengunjung, tetapi juga menjaga stabilitas operasional bisnis dari risiko kerugian finansial maupun penutupan usaha secara permanen.






