Sektor industri manufaktur, khususnya bidang garmen di Jawa Tengah, saat ini tengah menghadapi dinamika yang berujung pada ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal. Hampir 1.500 pekerja di dua perusahaan garmen berskala besar di wilayah tersebut terancam kehilangan mata pencaharian mereka. Fenomena ini menjadi perhatian penting dalam lanskap ekonomi dan ketenagakerjaan, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas pendapatan para pekerja. Dua entitas bisnis yang menjadi pusat dari gelombang PHK ini adalah PT Victory Apparel yang berlokasi di Kota Semarang serta PT Samwon yang beroperasi di Kabupaten Jepara.
Secara rinci, kondisi yang dialami oleh PT Victory Apparel bermula dari rentetan tantangan finansial yang telah berlangsung cukup lama. Perusahaan yang operasionalnya didukung penuh oleh investor asal China ini dilaporkan terus mengalami masalah keuangan sejak masa pandemi COVID-19 melanda. Akibat ketidakstabilan finansial yang berkepanjangan tersebut, manajemen PT Victory Apparel di Kota Semarang diperkirakan harus mengambil langkah berat dengan melakukan PHK yang akan berdampak pada sekitar 800 pekerja di fasilitas produksi mereka.
Sementara itu, situasi yang tidak kalah menantang juga terjadi pada PT Samwon di Kabupaten Jepara. Perusahaan garmen yang mendapatkan dukungan modal dari investor asal Korea Selatan ini mengambil langkah yang lebih drastis dalam merespons dinamika bisnis saat ini. Manajemen PT Samwon telah memilih untuk menutup seluruh kegiatan operasional bisnisnya di Jepara. Keputusan penutupan fasilitas ini berujung pada rencana eksekusi PHK yang diproyeksikan akan menimpa sekitar 670 pekerja yang menggantungkan nasibnya pada perusahaan tersebut.
Kapolri Titip Perusahaan Jadikan Buruh sebagai Mitra, Minta Semua Guyub

Informasi mengenai potensi PHK massal ini pertama kali mencuat melalui laporan dari Said Iqbal, yang menjabat sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh. Melalui sebuah keterangan tertulis yang dirilis pada hari Kamis (23/7/2026), Said Iqbal menyoroti besarnya jumlah pekerja yang terdampak di kedua perusahaan garmen tersebut dan menjadikan isu ini sebagai prioritas pengawasan ketenagakerjaan.
Untuk menelusuri akar permasalahan secara objektif, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) langsung mengambil tindakan dengan melakukan kunjungan lapangan. Hasil dari investigasi lapangan tersebut diungkapkan oleh Rizky Aditya Wijaya, selaku Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Selatan pada hari Kamis (30/7/2026). Rizky mengonfirmasi bahwa pemicu utama dari ancaman PHK ini adalah terjadinya penurunan pesanan ekspor secara drastis dari para pelanggan bisnis atau segmen business-to-business (B2B).
Pengusaha Sudah Mulai Hitung-hitung Upah Minimum 2027, Ada Bocoran Ini

Lebih lanjut, Rizky menjelaskan bahwa PT Victory Apparel dan PT Samwon merupakan perusahaan yang beroperasi di dalam kawasan berikat. Seluruh kapasitas produksi dari kedua perusahaan tersebut secara khusus memang diperuntukkan bagi pemenuhan pasar ekspor global. Oleh karena itu, Kemenperin menegaskan bahwa keputusan pengurangan tenaga kerja dan penutupan bisnis ini murni disebabkan oleh faktor internal berupa turunnya permintaan pesanan pasar internasional. Kondisi ini dipastikan tidak memiliki kaitan sama sekali dengan isu maraknya banjir produk impor di pasar domestik.
Sebagai solusi dan langkah mitigasi atas gelombang PHK ini, pemerintah melalui Kemenperin telah menyiapkan strategi penyerapan tenaga kerja. Kemenperin berkomitmen untuk mendorong proses penyerapan para buruh yang terkena PHK agar dapat segera tersalurkan ke perusahaan-perusahaan baru. Prospek ini sangat terbuka lebar mengingat pada tahun 2026 ini, masih terdapat banyak aliran investasi baru di sektor garmen maupun sektor alas kaki yang masuk dan menanamkan modalnya di wilayah Jawa Tengah. Dengan adanya investasi baru tersebut, diharapkan masa transisi ribuan pekerja yang terdampak dapat berjalan dengan optimal menuju peluang kerja yang baru.






