Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menekan perekonomian Iran kembali membentur dinding tebal. Peran China sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia sekaligus pembeli utama minyak Teheran menjadi faktor kunci yang menghambat efektivitas sanksi Washington.
Melalui strategi yang dinamai Operasi Ekonomi Outcast, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melancarkan ancaman sanksi baru terhadap berbagai negara dan entitas yang masih menjalin kemitraan dagang dengan Iran. Namun, Beijing secara konsisten menolak langkah sepihak tersebut dan menegaskan hak kedaulatannya untuk mempertahankan hubungan perdagangan normal dengan Iran maupun Rusia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa perang ekonomi serta strategi tekanan maksimum tidak akan menyelesaikan akar persoalan yang ada.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Jalur Dagang dan Kilang Teapot
Selama bertahun-tahun, transaksi minyak mentah antara China dan Iran bernilai puluhan miliar dolar AS per tahun. Pasokan tersebut diserap melalui infrastruktur dagang yang dirancang untuk meminimalkan ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
Jaringan perdagangan ini melibatkan kilang minyak independen skala kecil yang dikenal sebagai teapot refinery, armada kapal tanker khusus, pelabuhan tertentu, serta institusi perbankan lokal yang beroperasi di luar ekosistem dolar AS. Skema ini membuat jalur pasokan energi Teheran tetap mengalir meskipun berada di bawah pengawasan ketat Washington.
Kendati demikian, celah pengawasan tetap menjadi sasaran AS. Scott Bessent mengungkapkan bahwa otoritas Washington telah melayangkan peringatan kepada dua bank asal China terkait keterlibatan mereka dalam transaksi dengan Iran. Max Meizlish dari Foundation for Defense of Democracies mencatat bahwa sejumlah entitas perantara dalam perdagangan ini masih memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan badan usaha milik negara China yang terintegrasi dalam sistem perbankan global berbasis dolar.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Ujian Menjelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Eskalasi tekanan ekonomi ini mencuat tepat sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat pada bulan berikutnya. Situasi tersebut menempatkan relasi bilateral kedua negara dalam posisi yang rentan.
Analis dari Shanghai Institutes for International Studies, Zhao Long, menilai ruang kompromi bagi Beijing untuk menuruti tuntutan Washington atas isu Iran sangatlah sempit. Di sisi lain, peneliti Center for International Security and Strategy di Tsinghua University, Sun Chenghao, memperingatkan bahwa langkah Washington yang melewati batas toleransi Beijing hampir dipastikan memicu tindakan balasan. Skenario tersebut berisiko mengubah agenda pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi Jinping dari upaya stabilisasi hubungan menjadi sekadar mitigasi kerusakan diplomatik.






