Pertumbuhan laba industri di China mengalami perlambatan tajam pada Juli setelah hanya berekspansi 11,2% secara tahunan (year-on-year). Capaian tersebut menjadi laju pertumbuhan terlemah sepanjang tahun berjalan, menandai hilangnya tenaga pada sektor manufaktur Negeri Tirai Bambu di tengah pelemahan ekonomi makro.
Data Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan bahwa akumulasi laba industri dari Januari hingga Juli naik 17,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencerminkan koreksi momentum yang nyata jika dibandingkan dengan capaian semester pertama yang masih mampu mencatatkan kenaikan 18,7%.
Penopang Teknologi dan Tekanan Properti
Kinerja industri China saat ini memperlihatkan kontras yang tajam antarsektor. Di satu sisi, demam kecerdasan buatan (AI) global menjadi penyelamat utama dengan mengerek permintaan terhadap perangkat keras komputasi dan elektronik. Sektor sirkuit terpadu (integrated circuit) mencetak kenaikan laba 18,5% sepanjang Januari鈥揓uli dan menyumbang lebih dari 80% total pertumbuhan laba di industri elektronik. Manufaktur serat optik bahkan mencatat lonjakan laba lebih dari lima kali lipat.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Produsen bahan baku turut mencatatkan lonjakan laba 55,2% hingga akhir Juli. Selain itu, industri pengolahan minyak bumi berhasil kembali membukukan laba berkat gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga produk kimia hilir.
Namun, perolehan positif di sektor teknologi tinggi gagal menutupi keterpurukan industri konvensional. Penurunan investasi pada sektor properti dan infrastruktur terus memukul industri baja serta semen. Dampak lesunya pasar perumahan juga menghantam manufaktur furnitur, yang labanya anjlok hingga 58,2% selama tujuh bulan pertama tahun ini鈥攎emburuk dari penurunan 52,7% pada bulan Juni.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Hambatan Pemulihan Makro
Penurunan laju laba korporasi sejalan dengan indikator ekonomi makro China yang kian melemah. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua melambat ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekspor riil merosot ke level 5,5% pada Juli dari sebelumnya 11,6% pada Juni, sementara inflasi tingkat pabrik melambat ke 3,5%.
Ekonom Julius Baer, Sophie Altermatt, menilai pelemahan struktural masih membayangi prospek pemulihan. Keruntuhan pasar properti, rendahnya tingkat kepercayaan rumah tangga, serta lesunya investasi swasta dinilai menjadi faktor utama yang terus membatasi ruang akselerasi ekonomi China ke depan.






