Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Riau secara intensif melaksanakan kegiatan pengecekan dan pemantauan dari jalur udara ke sejumlah kawasan yang terpantau memiliki konsentrasi titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada Rabu (12/8). Kegiatan pemantauan udara oleh jajaran Forkopimda ini diselenggarakan sebagai langkah tindak lanjut resmi atas ditemukannya peningkatan jumlah hotspot yang terpantau di beberapa wilayah Provinsi Riau. Pengecekan ini bertujuan untuk memantau dari dekat sebaran titik panas serta mengoordinasikan langkah antisipasi kebakaran di daerah-daerah yang terindikasi.
Pelaksanaan pengecekan dan pemantauan dari udara tersebut dilakukan dengan mengacu pada rujukan data terbaru yang dihimpun melalui sistem Dashboard Lancang Kuning (DLK). Kabid Humas Polda Riau Kombes Akmadi menerangkan bahwa berdasarkan pantauan data sistem DLK hingga pukul 06.00 WIB, terdapat sebanyak 123 hotspot yang terindikasi karhutla di wilayah Provinsi Riau. Dari total 123 hotspot yang terdeteksi tersebut, rincian tingkat kerawanannya terbagi ke dalam beberapa klasifikasi, yaitu terdiri dari 3 hotspot kategori rendah, 119 hotspot kategori sedang, serta 1 hotspot kategori tinggi.
Berdasarkan penjelasan Kombes Akmadi, fokus perhatian utama saat ini ditujukan kepada wilayah-wilayah kabupaten yang mencatatkan konsentrasi hotspot paling tinggi di Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu tercatat menjadi daerah dengan konsentrasi hotspot terbesar, yakni sebanyak 42 titik panas. Dari 42 titik di Indragiri Hulu tersebut, rinciannya terdiri dari 3 hotspot kategori rendah, 38 hotspot kategori sedang, dan 1 hotspot kategori tinggi. Selain Indragiri Hulu, kawasan lain yang juga menjadi perhatian utama adalah Kabupaten Siak yang memiliki 34 hotspot serta Kabupaten Indragiri Hilir dengan 25 hotspot.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Di samping wilayah-wilayah dengan konsentrasi utama tersebut, penanganan karhutla juga difokuskan pada kawasan perbatasan antarwilayah kabupaten. Secara spesifik, penanganan diarahkan pada area di wilayah Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, khususnya pada kawasan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak. Sementara itu, sisa titik panas atau hotspot lainnya terdeteksi tersebar di beberapa kawasan kabupaten dan kota lainnya, meliputi Kabupaten Pelalawan sebanyak 7 titik, Kabupaten Kampar 5 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 4 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 3 titik, Kabupaten Bengkalis 2 titik, dan Kota Dumai sebanyak 1 titik.
Mengenai temuan 123 hotspot yang terdaftar dalam sistem tersebut, Kombes Akmadi memberikan penjelasan penting bahwa keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan bahwa di lokasi tersebut terdapat kebakaran hutan dan lahan yang sedang aktif. Oleh karena itu, seluruh jajaran kewilayahan telah secara resmi diperintahkan untuk segera turun ke lapangan guna melakukan verifikasi dan pengecekan secara langsung. Proses verifikasi serta pengecekan lapangan ini sangat diperlukan untuk memastikan kondisi yang sebenarnya terjadi di titik-titik lokasi hotspot tersebut.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Kegiatan pemantauan udara ini dilaksanakan bersama oleh unsur pimpinan daerah dan instansi terkait di Riau. Pejabat yang ikut serta dalam rombongan pemantauan udara tersebut adalah Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Kajati Riau I Dewa Gede Wirajana, Kapok Sahli Kodam XIX/Tuanku Tambusai Brigjen TNI M. Yahya, serta Kepala BPBD Provinsi Riau Edy Afrizal. Keterlibatan pimpinan Forkopimda dalam pemantauan udara ini menegaskan komitmen bersama dalam memantau perkembangan hotspot serta mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.






